Potretterkini.id, KENDARI – Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara kembali membuktikan kuatnya semangat persaudaraan melalui penyelenggaraan Silaturahmi Akbar yang dipusatkan di kawasan Eks MTQ dan Tugu Religi Kota Kendari, Minggu (19/7/2026). Perhelatan budaya terbesar masyarakat Muna tahun ini tampil spektakuler dengan penyajian ribuan dulang yang diproyeksikan masuk dalam catatan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).

Mengusung tema “Merajut Persaudaraan, Melestarikan Adat dalam Semangat Kawunaha yang Luhur Menuju Indonesia Emas 2045,” kegiatan tersebut dihadiri ribuan peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara. Tokoh adat, akademisi, pemuda, hingga masyarakat umum memadati lokasi untuk menyaksikan sekaligus merayakan kekayaan budaya Wuna yang diwariskan secara turun-temurun.
Ketua Panitia Pelaksana, Dr. L.M. Bariun, S.H., M.H., mengatakan keberhasilan menghadirkan ribuan dulang merupakan buah dari semangat gotong royong seluruh masyarakat Muna yang sejak awal bersama-sama mempersiapkan kegiatan tersebut.
Menurutnya, Silaturahmi Akbar bukan sekadar ajang berkumpul, tetapi menjadi momentum memperkuat nilai-nilai Kawunaha, falsafah hidup masyarakat Muna yang menjunjung tinggi persaudaraan, kebersamaan, serta saling menghormati.
“Alhamdulillah, target penyajian ribuan dulang berhasil diwujudkan. Ini menjadi simbol bahwa budaya gotong royong dan persatuan masyarakat Muna masih terjaga dengan baik,” ujar L.M. Bariun.
Ia menegaskan, penyelenggaraan kegiatan ini merupakan bentuk komitmen KKMM Sulawesi Tenggara dalam menjaga dan memperkenalkan budaya Muna kepada generasi muda agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Dalam tradisi masyarakat Muna, dulang bukan sekadar wadah penyajian makanan. Dulang memiliki makna filosofis sebagai simbol penghormatan kepada tamu, kebersamaan dalam kehidupan sosial, serta semangat berbagi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Melalui Silaturahmi Akbar ini, KKMM Sulawesi Tenggara berharap budaya Wuna tidak hanya tetap lestari, tetapi juga semakin dikenal oleh generasi muda sebagai identitas yang harus dijaga. Di tengah arus modernisasi, nilai-nilai persaudaraan, gotong royong, dan penghormatan terhadap adat diyakini akan terus menjadi fondasi utama dalam memperkuat kebersamaan masyarakat Muna di mana pun berada.
Ketua Harian KKMM Sultra ini menyadari bahwa suksesnya Silaturahmi Akbar merupakan hasil persiapan panjang yang melibatkan seluruh unsur kepanitiaan, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, hingga warga Muna dari berbagai daerah.
Selain menjadi ajang mempererat tali silaturahmi, kegiatan tersebut juga menjadi panggung pelestarian budaya Wuna melalui beragam pertunjukan adat yang memukau ribuan pengunjung.
Rangkaian acara diawali dengan prosesi Kabasano Haroa, ritual doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan dan keberkahan bagi seluruh masyarakat Muna.
Suasana semakin semarak saat panggung budaya menampilkan berbagai atraksi tradisional, mulai dari Perkelahian Kuda yang menggambarkan keberanian dan ketangkasan, Tari Linda dengan gerakan yang anggun dan kompak, Modero sebagai tarian pergaulan yang dipadukan dengan tradisi berbalas pantun dalam bahasa Muna, hingga Ewa Wuna, seni bela diri tradisional yang menjadi warisan leluhur masyarakat Muna.
Sorak tepuk tangan ribuan penonton terus menggema mengiringi setiap penampilan, mencerminkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap upaya pelestarian budaya daerah.
Penyelenggaraan Silaturahmi Akbar dengan penyajian ribuan dulang menjadi bukti bahwa budaya Muna tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga terus berkembang sebagai warisan yang membanggakan Sulawesi Tenggara dan Indonesia. (Med)











Komentar