Potretterkini.id, KONSEL-Kisah berdirinya Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) menyimpan cerita perjuangan yang tak banyak diketahui publik. Di balik kemajuan daerah tersebut hari ini, ada jejak kerja keras dan tekad kuat dari bupati pertamanya, H. Imran, yang memulai segalanya dari kondisi serba terbatas bahkan nyaris tanpa apa pun.
Dalam sebuah wawancara yang diunggah kanal YouTube Bintang Multi Sukses dan dibagikan ulang oleh putrinya, Siska Karina Imran, pada Sabtu (2/5/2026), Imran mengenang masa-masa awal kepemimpinannya yang penuh tantangan. Ia secara khusus menyebut nama Arsalim sebagai sosok yang turut mendampingi dan berperan penting dalam merancang arah pembangunan daerah sejak awal terbentuknya Konsel.
Kala itu, dengan adanya keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) Arsalim bahkan langsung dipercaya dan ditunjuk untuk memimpin jabatan strategis dalam menyusun fondasi pembangunan daerah baru tersebut.
Imran menceritakan, dirinya dilantik pada tahun 2003 oleh Hari Sabarno di rumah jabatan gubernur. Namun, pelantikan tersebut jauh dari kata ideal. Tidak seperti daerah lain yang sudah memiliki perangkat pemerintahan lengkap, Konsel justru memulai dari titik nol.
“Biasanya bupati dilantik sudah ada aparatnya. Tapi ini tidak ada sama sekali. Tidak ada staf, tidak ada sekda, tidak ada pegawai,” ungkap Imran dalam video berdurasi 14 menit 2 detik tersebut.
Alih-alih menunggu kesiapan, Imran langsung bergerak. Sehari setelah dilantik, ia mulai bekerja meski tanpa kantor. Sebuah pohon jambu di kawasan Andoolo yang saat itu masih berupa hutan semak menjadi saksi awal berdirinya pemerintahan Konsel.
“Saya duduk di bawah pohon jambu, di situ saya mulai berpikir apa yang harus dilakukan. Kita tidak punya anggaran, tapi pemerintahan harus jalan,” kenangnya.
Dalam kondisi serba terbatas, Imran harus merangkap berbagai peran, termasuk tugas administratif dasar. Ia bahkan memegang sendiri stempel pemerintahan karena belum adanya pegawai.
Langkah cepat pun diambil. Ia menyusun struktur organisasi pemerintahan daerah dari nol, lalu bertolak ke Jakarta untuk mengurus pembentukan perangkat daerah. Hasilnya, sembilan dinas awal berhasil dibentuk sebagai fondasi awal jalannya roda pemerintahan.
Kisah ini bukan sekadar nostalgia, melainkan potret nyata bagaimana sebuah daerah lahir dari keterbatasan dan bagaimana kolaborasi, termasuk peran Arsalim, menjadi kunci dalam merancang masa depan Konawe Selatan. (Med)







Komentar