Potretterkini– Pergantian tahun dalam kalender Hijriyah bukanlah sekadar pergantian angka dari 1447 H menuju 1448 H, merupakan momentum spiritual yang mengajak setiap insan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, melakukan muhasabah, dan menata kembali arah perjalanan hidup (to redefine the course of one’s life). Tahun Baru Hijriyah menjadi ruang kontemplasi untuk melihat sejauh mana hubungan kita dengan Allah SWT telah terbangun, sejauh mana kepedulian kita kepada sesama telah diwujudkan, dan sejauh mana keberadaan kita memberikan manfaat bagi lingkungan, bangsa, dan kemanusiaan.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering kali terjebak dalam perlombaan mengejar kesuksesan material, popularitas, dan pengakuan sosial. Kemajuan teknologi telah menghadirkan berbagai kemudahan, tetapi pada saat yang sama juga melahirkan tantangan berupa krisis moral, menurunnya kepedulian sosial, serta semakin jauhnya manusia dari nilai-nilai spiritual.
Tidak sedikit orang yang mampu membangun citra yang baik di ruang digital, tetapi lupa membangun kedekatan dengan Allah SWT dan memperbaiki kualitas dirinya di dunia nyata.
Momentum Tahun Baru Hijriyah mengingatkan kita bahwa hijrah yang paling penting bukanlah perpindahan fisik, melainkan hijrah hati. Hijrah dari kelalaian menuju kesadaran, dari keputusasaan menuju optimisme, dari egoisme menuju kepedulian, serta dari kebencian menuju kasih sayang. Hijrah hati merupakan fondasi bagi lahirnya perubahan yang sejati, karena setiap tindakan manusia selalu berawal dari niat dan kebersihan hati, (Purity of the Heart).
Muhasabah menjadi langkah awal dalam perjalanan hijrah tersebut. Dengan muhasabah, seseorang tidak lagi sibuk mencari kesalahan orang lain, tetapi mulai berani mengakui kekurangan dirinya sendiri, tidak lagi mengukur keberhasilan dari banyaknya harta atau tingginya jabatan, melainkan dari kualitas ibadah, keikhlasan amal, dan manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Muhasabah adalah cermin yang membantu manusia melihat dirinya secara jujur di hadapan Allah SWT. Refleksi Tahun Baru Hijriyah mengajak umat Islam untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT (hablum minallah). Iman yang kuat tidak hanya diwujudkan melalui ritual ibadah, tetapi juga melalui keteguhan menjaga kejujuran, amanah, kesabaran, dan rasa syukur dalam setiap keadaan. Ketika hubungan dengan Allah semakin baik, hati akan menjadi lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan setiap keputusan lebih berorientasi pada nilai-nilai kebaikan.
Di sisi lain, kesalehan spiritual harus berjalan beriringan dengan kesalehan sosial. Islam mengajarkan bahwa hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan. Tidaklah cukup seseorang rajin beribadah jika masih gemar menyakiti orang lain, menyebarkan kebencian, atau mengabaikan penderitaan sesamanya, seharusnya harus menyebar kasih (Rahmat).
Semangat hijrah harus diwujudkan dalam bentuk mempererat silaturahmi, membangun persatuan, menghargai perbedaan, serta menumbuhkan budaya saling membantu dan saling menguatkan.
Di tengah berbagai tantangan bangsa, seperti polarisasi sosial, rendahnya kepercayaan publik, kerusakan lingkungan, dan kesenjangan ekonomi, nilai-nilai hijrah menjadi sangat relevan untuk diaktualisasikan.
Masyarakat membutuhkan lebih banyak individu yang menjadikan integritas sebagai prinsip hidup, menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian, serta menjadikan kepedulian sosial sebagai bentuk nyata dari keimanan. Hijrah bukan hanya perubahan pribadi, tetapi juga transformasi sosial yang melahirkan masyarakat yang lebih adil, damai, dan bermartabat.
Tahun Baru Hijriyah 1448 H juga menjadi pengingat bahwa kehidupan yang bermakna tidak diukur dari seberapa banyak yang kita miliki, tetapi dari seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan.
RASULULLAH SAW MENGAJARKAN BAHWA SEBAIK-BAIK MANUSIA ADALAH MEREKA YANG PALING BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN. Oleh karena itu, setiap muslim dituntut untuk menjadi sumber kasih (rahmat), baik dalam keluarga, lingkungan kerja, masyarakat, maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tahun Baru Hijriyah merupakan ajakan untuk memulai lembaran baru dengan hati yang lebih bersih, iman yang lebih kokoh, dan semangat pengabdian yang lebih besar. Momentum ini hendaknya tidak berhenti pada seremoni atau ucapan selamat semata, tetapi menjadi titik awal perubahan yang nyata dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak.
Semoga Tahun Baru Hijriyah 1448 H menjadi awal hijrah menuju pribadi yang lebih bertakwa, masyarakat yang lebih peduli, dan bangsa yang lebih berkeadaban. Ketika hati telah berhijrah kepada Allah, iman semakin menguat, jiwa semakin bersih, dan kasih sayang (Rahma dan Rahim) akan tumbuh dalam setiap sikap dan tindakan, maka keberadaan kita tidak hanya menjadi berkah bagi diri sendiri, menjadi rahmat bagi sesama manusia dan seluruh alam semesta.
Oleh: Dr. Anidi, S.Ag., M.Si., M.S.I., M.H Dosen Magister Administrasi Pendidikan, UM Kendari







Komentar