Potretterkini.id, KENDARI – Keterbatasan akses internet tidak lagi harus menjadi penghalang bagi sekolah dalam memperkaya sumber pembelajaran. Semangat itu diperkenalkan melalui platform Teacher in a Box (TIB) yang dikenalkan oleh The Rotary Club of Paddington Queensland, Australia bersama akademisi Universitas Halu Oleo (UHO) di Sekolah Al-Fath Kendari, pada (12/9/2026).
Kegiatan pengenalan tersebut menghadirkan Pamela Davis, representatif The Rotary Club of Paddington Queensland, Australia, serta akademisi UHO Prof. Dr. Ir. Andi Bahrun, M.Sc.Agric sebagai narasumber.
Workshop ini diikuti para guru dan siswa Sekolah Al-Fath. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses terhadap sumber pembelajaran digital sekaligus memperkenalkan model pembelajaran yang dapat digunakan tanpa bergantung pada koneksi internet.
Pembina Yayasan Al-Fath Kendari, Irna Elyza, S.Psi., M.Pd, menyampaikan apresiasi kepada The Rotary Club of Paddington Queensland dan seluruh narasumber yang telah memperkenalkan platform TIB kepada keluarga besar Sekolah Al-Fath.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kegiatan pengenalan Teacher in a Box. Kami berharap platform ini segera dapat diimplementasikan di Sekolah Al-Fath sehingga bisa mendukung proses pembelajaran,” ujar Irna.
Ia juga mengajak para guru dan siswa mengikuti kegiatan tersebut dengan sungguh-sungguh agar pemanfaatan teknologi pendidikan yang diperkenalkan dapat memberikan manfaat nyata dalam kegiatan belajar mengajar.
Menurut Irna, pengenalan TIB juga sejalan dengan upaya Yayasan Al-Fath untuk terus memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai pihak.
Langkah tersebut dilakukan untuk memperkaya sumber pengajaran sekaligus meningkatkan kualitas tenaga pendidik di lingkungan sekolah.

Sementara itu, Pamela Davis menjelaskan bahwa Teacher in a Box dirancang untuk mendukung pembelajaran mandiri maupun proses pengajaran di dalam kelas.
Platform tersebut dinilai memiliki manfaat terutama bagi sekolah yang menghadapi keterbatasan sumber daya pengajaran maupun keterbatasan akses terhadap pelatihan dan sumber pendidikan.
“Teacher in a Box memungkinkan sumber daya pendidikan digital digunakan dalam kondisi tanpa koneksi internet,” jelas Pamela.
Secara teknis, TIB menggunakan sebuah server berupa laptop atau komputer desktop yang telah dilengkapi dengan konten pendidikan dalam kapasitas penyimpanan mencapai ratusan gigabyte.
Server tersebut kemudian dapat dipancarkan melalui router nirkabel bertenaga USB sehingga dapat diakses menggunakan berbagai perangkat, seperti telepon pintar, tablet maupun laptop.
Menurut Pamela, Teacher in a Box merupakan inisiatif yang diprakarsai Rotary Club of Paddington, Australia dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia untuk membawa sumber pendidikan daring ke lingkungan yang tidak memiliki akses internet.
Melalui jaringan tersebut, siswa dapat mengakses berbagai sumber pendidikan secara gratis tanpa harus terhubung langsung dengan internet.
Pamela berharap pengenalan dan pelatihan yang diberikan kepada guru serta siswa Al-Fath dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan pemanfaatan TIB secara berkelanjutan.
Tidak hanya bagi siswa dan guru, pemanfaatan platform tersebut juga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi orang tua dalam mendukung proses belajar anak di luar lingkungan sekolah.
“Kami serius menyelenggarakan kegiatan ini dan akan dilanjutkan dengan kegiatan berikutnya, termasuk pengadaan server Teacher in a Box serta workshop penggunaannya,” katanya.
Di tempat yang sama, akademisi UHO, Prof. Andi Bahrun, menilai platform TIB relevan untuk dikembangkan di lingkungan sekolah sebagai salah satu alternatif memperkaya sumber bahan pembelajaran.
Menurutnya, salah satu keunggulan TIB adalah kemampuannya menyediakan berbagai bahan pendidikan tanpa membutuhkan koneksi internet maupun penggunaan data seluler.
Materi yang tersedia di dalam platform tersebut juga berasal dari sumber resmi dan telah melalui proses penyaringan untuk memastikan konten yang disediakan aman digunakan dalam lingkungan pendidikan.

Prof. Andi menilai keberadaan TIB sangat sesuai dikembangkan di sekolah seperti Al-Fath, terutama dalam menghadapi perubahan teknologi dan tantangan pembelajaran di era disrupsi.
“Teacher in a Box adalah perpustakaan interaktif komunitas dan sumber daya akademik yang sangat besar yang dapat diakses tanpa internet,” kata Prof. Andi.
Ia meyakini keberadaan platform tersebut tidak hanya dapat memperkaya sumber daya pembelajaran di sekolah, tetapi juga membuka ruang bagi guru untuk mengembangkan bahan ajar sesuai kebutuhan peserta didik.

Bahkan, menurutnya, guru dapat turut memperkaya materi yang tersedia dengan memasukkan bahan pembelajaran yang relevan dengan kurikulum dan karakteristik lokal.
Dengan demikian, Teacher in a Box tidak sekadar menjadi perangkat teknologi pendidikan, tetapi dapat berkembang menjadi ekosistem sumber belajar yang mendukung guru, siswa dan orang tua.
Kolaborasi antara Rotary Club of Paddington Queensland, Australia dan Sekolah Al-Fath bersama akademisi UHO tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam menghadirkan alternatif pembelajaran digital yang inklusif, terutama bagi lingkungan pendidikan yang masih menghadapi keterbatasan akses internet. (Red)







Komentar