Rasmin Jaya Serahkan Buku ke Bupati Darwin, Literasi Diproyeksikan Jadi Kekuatan Liwu Mokesa

Berita3110 Dilihat

Potretterkini.idMUNA BARAT – Semangat generasi muda Muna Barat dalam membangun daerah melalui karya mendapat apresiasi dari Bupati Muna Barat La Ode Darwin.

Apresiasi tersebut disampaikan La Ode Darwin saat menerima karya buku berjudul “Transformasi dan Wacana di Era Disrupsi” yang diserahkan langsung oleh penulis sekaligus Founder Literasi Muna Barat, Rasmin Jaya, di ruang kerjanya, Senin (10/8/2026).

Buku tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi pemuda daerah dalam menuangkan gagasan, pemikiran, serta pandangan terhadap berbagai dinamika sosial, politik, dan pembangunan yang berkembang di tengah masyarakat.

La Ode Darwin mengaku bangga melihat anak daerah mampu menghasilkan karya intelektual yang tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus referensi bagi pembangunan daerah.

“Saya sangat bangga ada anak daerah yang berinovasi lewat karya, apalagi sampai menulis dan menciptakan sebuah buku. Ini bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda sekaligus menjadi rekomendasi gagasan untuk pembangunan menuju Liwu Mokesa,” tegas Darwin.

Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan program pemerintah. Keterlibatan generasi muda melalui gagasan, kreativitas, literasi, dan berbagai karya intelektual juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Karena itu, Darwin mendorong penguatan sumber daya manusia melalui gerakan literasi, budaya membaca, diskusi, dan menulis. Ia berharap generasi muda tidak hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan, tetapi mampu mengambil peran dan memberikan kontribusi nyata bagi daerah.

“Untuk mewujudkan pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat yang berkesinambungan, diperlukan keterlibatan aktif semua pihak dan kolaborasi. Liwu Mokesa harus kita wujudkan bersama,” ujarnya.

Darwin juga menilai perjuangan generasi muda dalam membangun daerah tidak selalu harus dilakukan melalui aksi di lapangan. Karya berupa buku, gagasan, penelitian, maupun pemikiran kritis juga merupakan bentuk perjuangan yang dapat memberikan manfaat jangka panjang.

Bahkan, karya intelektual, kata dia, dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pembangunan.

“Kita berharap ke depan lahir penulis-penulis baru dan budaya literasi terus tumbuh. Literasi harus menjadi instrumen untuk mencerdaskan generasi sekaligus mendorong perubahan sosial kemasyarakatan,” katanya.

Literasi Jadi Kunci Hadapi Arus Informasi

Sementara itu, Rasmin Jaya mengatakan pemerintah memiliki peran krusial dan strategis dalam membangun budaya literasi di tengah masyarakat.

Menurutnya, peran tersebut dapat diwujudkan melalui kebijakan dan regulasi yang mendukung penguatan literasi, pengembangan perpustakaan, hingga penyediaan bahan bacaan yang mudah diakses masyarakat.

Rasmin menyambut baik apresiasi dan dukungan yang diberikan Bupati Muna Barat terhadap karya anak muda daerah.

“Saya sangat menyambut baik apresiasi dan dukungan dari Bupati Muna Barat yang mendorong kita terus berkarya dan menciptakan terobosan agar dapat bermanfaat bagi daerah dan masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai pemerintah daerah memiliki posisi strategis sebagai fasilitator dan dinamisator dalam meningkatkan budaya literasi masyarakat, termasuk dalam upaya menekan angka buta aksara.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi informasi, penguatan literasi digital juga dinilai semakin penting untuk membentengi masyarakat dari penyebaran informasi palsu atau hoax.

“Penguatan literasi dan gerakan gemar membaca harus menjadi perhatian bersama. Ini penting untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan kualitas SDM, sekaligus mendorong daya saing generasi muda,” tegas Rasmin.

Menurutnya, derasnya arus informasi di era digital dapat memberikan dampak negatif apabila masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk memilah dan memahami informasi secara kritis.

Karena itu, masyarakat harus dibekali kemampuan literasi agar tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Dorong Mahasiswa Kembali Jadi Agen Perubahan

Rasmin menjelaskan, buku “Transformasi dan Wacana di Era Disrupsi” lahir dari pergulatan pemikiran terhadap berbagai dinamika sosial, politik, dan demokrasi yang berkembang di ruang publik.

Ia berharap gagasan yang dituangkan dalam buku tersebut dapat menjadi salah satu referensi sekaligus rekomendasi pemikiran bagi para pemangku kepentingan dalam melihat berbagai persoalan dan merumuskan kebijakan pembangunan daerah.

Namun, ia juga menyoroti tantangan budaya literasi di kalangan mahasiswa yang dinilainya semakin rentan tergerus oleh derasnya arus informasi, globalisasi, dan modernisasi.

Kondisi tersebut, kata dia, harus dijawab dengan mengembalikan mahasiswa pada fungsi utamanya sebagai agen perubahan.

Mahasiswa harus mampu membaca dan memetakan berbagai fenomena sosial maupun politik dengan analisis yang tajam, objektif, dan komprehensif.

“Budaya literasi tidak boleh tergilas oleh modernisasi. Membaca memiliki manfaat besar dalam memperdalam pengetahuan. Warisan ide dan gagasan akan menjadi bekal bagi kita untuk mengejar harapan, impian, dan cita-cita,” katanya.

Rasmin juga mendorong mahasiswa agar tidak berhenti pada aktivitas akademik di ruang kuliah. Menurutnya, mahasiswa harus mulai memikirkan kontribusi yang dapat diberikan setelah menyelesaikan pendidikan.

“Mahasiswa tidak cukup hanya kuliah. Mereka harus memikirkan setelah kuliah mau ke mana dan harus seperti apa. Karena itu, mahasiswa perlu mengisi dirinya dengan organisasi sebagai proses menghadapi tantangan yang lebih besar agar dapat memberikan dampak bagi masyarakat dan daerah yang dicintainya,” tegasnya.

Pemuda Siap Jadi Mitra Kritis Pemerintah

Rasmin turut menyatakan dukungannya terhadap program strategis yang dicanangkan Bupati Muna Barat La Ode Darwin melalui tagline “Menuju Liwu Mokesa” atau Kampung Bagus.

Ia mengatakan generasi muda siap mengambil bagian dalam pembangunan daerah dengan mengoptimalkan berbagai potensi yang dimiliki Muna Barat.

“Sebagai generasi muda, kami mendukung dan ingin menjadi bagian dari mitra kritis dan strategis pemerintah daerah agar gagasan, ide, dan program dari pemuda dapat teraktualisasi menjadi sesuatu yang konkret,” ujarnya.

Ia menilai kolaborasi antara pemerintah daerah dan generasi muda menjadi penting untuk memastikan pembangunan tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan dan aspirasi masyarakat.

Di sisi lain, Rasmin menilai sejumlah program di bawah kepemimpinan La Ode Darwin mulai dirasakan masyarakat.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Ia menilai pemerintah daerah tetap berupaya melakukan berbagai terobosan, termasuk melalui lobi dan negosiasi dengan pemerintah pusat untuk memperjuangkan alokasi anggaran serta kegiatan pembangunan agar dapat diarahkan ke Muna Barat.

Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan pembangunan sekaligus memperluas dampaknya terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Bagi Rasmin, dukungan terhadap pembangunan daerah tidak hanya diwujudkan melalui kritik, tetapi juga dengan menghadirkan gagasan, karya, dan kontribusi nyata.

Literasi, menurutnya, dapat menjadi salah satu jalan untuk melahirkan generasi muda yang kritis, produktif, dan mampu menjadi bagian dari solusi pembangunan Muna Barat menuju Liwu Mokesa. (Redaksi)

Komentar