PUASA RAMADHAN DALAM PERSPEKTIF ILMU SOSIAL PROFETIK

Berita2145 Dilihat

Potretterkini id-Puasa Ramadhan sering dipahami sebagai ibadah ritual yang bersifat individual, menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, dalam pendekatan Ilmu Sosial Profetik, puasa tidak berhenti pada dimensi spiritual personal, melainkan menjadi kekuatan transformatif yang berdampak pada struktur sosial.

Konsep Ilmu Sosial Profetik diperkenalkan oleh Kuntowijoyo, yang merumuskan Qur’an Surat Ali Imran:110, yang berbunyi: Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah….Pada ayat tersebut bahwa tiga pilar utama, yaitu: 1) Transendensi (tu’minuna billah), 2) Humanisasi (amar ma’ruf), dan 3) Liberasi (nahy munkar).

1. Transendensi: Puasa sebagai Penguatan Kesadaran Ketuhanan Konsep Transedensi mengacu pada Surat Al-Baqarah ayat 183, yang terjemahnya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Tujuan utama puasa yaitu taqwa kesadaran mendalam akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan.

Dalam hadis qudsi, Nabi Muhammad meriwayatkan bahwa Allah berfirman, Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, (HR. Bukhari dan Muslim).
Transendensi dalam Ilmu Sosial Profetik berarti menjadikan iman sebagai fondasi tindakan sosial. Puasa melatih integritas batin bahwa seseorang tetap jujur meskipun tidak diawasi. Di sinilah puasa membentuk etika sosial berbasis kesadaran ilahiah.

Menurut Fazlur Rahman, Al-Qur’an menekankan bahwa iman sejati harus melahirkan komitmen moral dan tanggung jawab sosial. Maka, puasa bukan sekadar ritual privat, tetapi fondasi etika publik. 2. Humanisasi, Puasa sebagai Pendidikan Empati Sosial, Dimensi humanisasi menekankan pemuliaan manusia. Lapar yang dirasakan saat berpuasa menghadirkan kesadaran eksistensial tentang penderitaan kaum miskin.

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa hikmah puasa adalah melemahkan syahwat dan menumbuhkan kelembutan hati (raqāqat al-qalb). Ketika hati menjadi lembut, empati sosial tumbuh. Ramadhan juga berkaitan erat dengan praktik zakat dan sedekah. Pada surat al-Baqarah:177 ditegaskan bahwa kebajikan bukan hanya ritual, tetapi juga memberi kepada kerabat, anak yatim, dan orang miskin. Dalam kerangka Ilmu Sosial Profetik, puasa harus melahirkan solidaritas sosial dan keberpihakan pada kelompok marginal.

Humanisasi berarti mengubah kesadaran spiritual menjadi tindakan nyata: berbagi rezeki, memberdayakan masyarakat, dan mengurangi ketimpangan sosial.
3. Liberasi: Puasa sebagai Pembebasan dari Struktur Ketidakadilan. Liberasi dalam Ilmu Sosial Profetik berarti pembebasan dari segala bentuk penindasan dan kemungkaran sosial. Puasa melatih disiplin diri dan pengendalian nafsu dua fondasi penting dalam membangun masyarakat berintegritas. Ibn Khaldun menjelaskan bahwa kehancuran suatu peradaban sering disebabkan oleh dekadensi moral dan kerakusan kepada sesama.

Puasa, jika diinternalisasi secara mendalam, menjadi pendidikan moral kolektif yang mencegah korupsi, keserakahan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Pada perspektif pembebasan, puasa bukan hanya membebaskan diri dari hawa nafsu, tetapi juga membangun kesadaran untuk menolak praktik ketidakadilan sosial. Puasa Ramadhan dengan konsep liberasi tersebut dapat menjadi energi moral untuk melawan eksploitasi dan membangun tata kehidupan yang lebih adil.

Melalui pendekatan Ilmu Sosial Profetik, puasa Ramadhan dapat dipahami sebagai: pertama, Transendensi, Mengokohkan iman sebagai dasar etika social, kedua, Humanisasi, menumbuhkan solidaritas dan empati terhadap sesame, dan ketiga Liberasi, mendorong perjuangan melawan ketidakadilan struktural.

Sebagaimana ditegaskan oleh Kuntowijoyo, agama harus bergerak dari kesadaran normatif menuju praksis sosial. Puasa Ramadhan adalah laboratorium pembentukan manusia profetik manusia yang beriman kuat, peduli sosial, dan berani menegakkan keadilan.

Puasa Ramadhan dalam perspektif Ilmu Sosial Profetik bukan sekadar ibadah ritual, tetapi momentum transformasi sosial. Pauasa Ramadhan mengintegrasikan spiritualitas dan keadilan sosial. (Episode 12).

Tauziah: Ustadz Dr. Anidi, S.Ag., M.Si., M.S.I., M.H

Komentar