Prof Wa Kuasa Baka: Dinamika Kearifan Lokal Pulau Muna Antara Warisan dan Tatantangan Zaman  

Berita3233 Dilihat

Potretterkini.id, KENDARI- Prof. Dr. Dra. Wa kuasa Baka, M.Hum resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Kearifan Lokal Pertanian, di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UHO bersama Guru Besar lainnya yakni Prof Dr. La Ino, S.Pd., M. Hum, Prof. Dr. Muhammad Yani Balaka, S.E., M.Sc Agr, Prof. Dr. Yohannes Boni. S.E., M.Si, Prof Dr. Ir. Rahmad Sofyan Patajai. M.Si, Prod. Dr. Ir. Sitti Leomo, M.Si. Prof Dr.Ir. Kahirun. M.Si. dan Prof Dr. Faisal Danu Tuheteru. S.Hut. M.Si.

Ke delapan guru tersebut di kukuhkan oleh oleh Rektor UHO Dr. Herman, SH L.LM di Gedung Auditorium UHO, pada Senin (6/10/2025). Disaksikan Dewan Guru besar guru besar UHO, serta pejabat lingkup Universitas Halu Oleo.

Foto bersama Delapan Guru besar UHO yang telah dikukuhkan Rektor UHO Dr Herman SH. L.LM

Melalui orasi ilmiannya Salah sala satu Guru besar UHO Prof Wa Kuasa Baka, menyampaikan terkait “Dinamika Kearifan Lokal dalam Pembangunan Pertanian Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat Perdesaan Berbasis Budaya di Pulau Muna” menyampaikan bahwa  Pulau Muna di Sulawesi yang kaya akan tradisi gudang kearifan lokal pertanian.

Sistem rotasi lahan, tumpangsari, hingga pemanfaatan bahan alami untuk kesuburan tanah dan pengendalian hama menjadi bukti bahwa masyarakat Muna telah lama hidup dalam prinsip ekologi berkelanjutan jauh sebelum konsep green economy digaungkan dunia modern.

Namun, arus modernisasi membawa dilema. Revolusi Hijau, transmigrasi, urbanisasi, hingga pergeseran nilai budaya membuat pola pertanian tradisional perlahan ditinggalkan. Anak-anak muda Muna yang dahulu menjadi pewaris tradisi kini lebih memilih profesi di kota, meninggalkan sawah dan ladang yang dulunya menjadi identitas mereka.

Ironisnya, daerah yang dulunya mampu memasok pangan untuk wilayah sekitar, kini justru harus mengimpor talas, ubi jalar, bahkan beras dari luar.

Lebih jauh, perubahan relasi antara petani dan pemerintah juga menjadi faktor krusial. Program bantuan pangan yang semula dimaksudkan untuk menolong masyarakat miskin justru menimbulkan ketergantungan, melemahkan etos kerja, dan memudarkan semangat swadaya. Akibatnya, kemandirian dan jiwa kegotongroyongan yang dulu menjadi ciri khas masyarakat pertanian Muna semakin tergerus.

Meski begitu, Prof. Wa Kuasa Baka menawarkan harapan. Kearifan lokal bukanlah sesuatu yang harus dilihat sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai modal budaya dan sosial untuk masa depan. Melalui pendidikan, dokumentasi tradisi, dan pelibatan generasi muda, warisan ini dapat dihidupkan kembali.

Apalagi, kearifan lokal Muna telah lama mengajarkan prioritas nilai pribadi bisa dikorbankan demi komunitas, komunitas demi adat, dan adat tetap harus tunduk pada keyakinan agama. Nilai filosofis ini menjadi pedoman penting untuk meredam konflik antara tradisi dan religiusitas.

Di balik semua tantangan, Pulau Muna memberikan satu pelajaran berharga: kesejahteraan sejati masyarakat perdesaan tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada harmonisasi manusia dengan alam, budaya, dan spiritualitas.

Kearifan lokal Muna bukan sekadar praktik pertanian, tetapi juga seni, ritual, kuliner, hingga sastra lisan. Ia adalah wajah dari identitas kolektif yang, bila diberi ruang dan dukungan kebijakan, bisa menjadi model pembangunan berkelanjutan Indonesia yang berakar pada budaya. (Med)

Komentar