Polda Sultra Simulasi Pengamanan Diri Wartawan Saat Peliputan Unras, Tiga Situasi Perlu di Pahami

Berita Utama463 Dilihat

Potretterkini.id, KENDARI- Skenario pengamanan diri wartawan dalam proses peliputan saat unjuk rasa sangat penting diperhatikan, bila mana sudah terjadi skalasi besar demontrasi yang berujung pada tindakan anarkis. Jurnalis bisa menempatkan posisi yang tepat untuk meliput insiden terjadi.

Untuk menimalisir keadaan tersebut, Polda Sultra melaksanakan Coffe Morning bersama insan pers kambtimas Polda Sultra, dan pimpinan organisasi media di Mapolda Sultra, Kamis (27/5/2021).

Kabid Humas Polda Sultra Kombes Pol Ferry Walintukan, menyatakan agar tidak terjadi tindak kekerasan terhadap wartawan saat aksi unjuk rasa berpotensi anarkis, maka wartawan harus mengetahui protap disaat pengamanan.

“Kami sangat peduli atas keselamatan diri wartawan, untuk itu personel polda Sultra menyatukan presepsi, dengan cara melakukan pelatihan lansung kepada insan pers kambtimas , bagaimana cara terhindari dari sasaran intimidasi dan kekerasan massa saat dilapangan,” terangnya.

Kabag Ops Sat Brimobda Sultra AKP Asri Diyni menjelaskan secara singkat terkait teknis posisi wartawan di lapangan, yakni terbagi tiga zona.

Pertama pada situasi zona hijau ketika itu unjuk rasa masih terjadi negosiasi damai, kondusif, saat itu wartawan masih diperbolehkan berada di depan barisan aparat keamanan. Hal ini didepan masih tampil barisan Polwan yang memagari.

Situasi kuning, wartawan lebih waspada dan mengambil jarak aman. Situasi kuning yaitu situasi yang dimana massa aksi dan pihak pengamanan sudah melakukan tindakan saling dorong.

“Pada situasi kuning ini kami harap kepada para wartawan yang meliput mulai mengambil jarak radius 20 – 30 meter disamping kiri dan kanan dalmas,” katanya.

Pada situasi merah, dimana massa aksi mulai bertindak anarkis seperti saling bersitegang antara pendemo dam pengamanana, dimana sudah terjadi aksi melempar batu, bom molotov serta busur ia mengimbau untuk mengambil jarak sekitar 20 – 50 meter disamping atau dibelakang PHH Brimob.

Ketiga situasi ini kata Asri sebagai pedoman agar tidak ada lagi kekerasan yang menimpa jurnalis ketika meliput dilapangan. selain itu ia juga meminta tuk menggunakan atribut pengenal dari pihak kepolisian seperti Rompi, topi, dan masker.

Pada kesempatan yang sama Karo Ops Polda Sultra, Kombes Pol Tumpal Damayanus mengatakan, simulasi pola pengamanan menjadi gambaran wartawan dan personel polda Sultra yang melakukan pengamanan lapangan.

Tumpal menyakini rekan wartawan sudah paham dengan adanya simulasi ini, dan sedianya pula para wartawan saat meliput, menggunakan atribut sebagai tanda pengenal seperti topi, rompi, masker dan ID card, demi menjaga keselamatan dalam proses peliputan. itu adalah wartawan sehingga tercipta keselamatan dalam melakukan peliputan,” ujarnya. (*/La Ismeid)

Komentar