Potretterkini.id, KENDARI- Pemilihan Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) periode 2025–2029 mengukir sebuah sejarah baru pemilihan rektor ditanah air negara kesatuan repubulik indonesia. Dalam ajang yang biasanya menjadi panggung kekuatan dan pengaruh kementerian untuk memenangkan kandidatnya, kali ini justru menunjukkan hasil sebaliknya.
Kandidat yang didukung oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Dr. Fauzan justru tumbang dengan yang didukung oleh Rektor UHO.
Dari total 74 suara yang diperebutkan, Prof. Armid berhasil meraih kemenangan tipis dengan 31 suara, unggul hanya satu suara atas pesaing terkuatnya, Prof. Dr. Takdir, M.Si., yang memperoleh 30 suara. Sementara itu, Prof. Dr. Ruslin, M.Si., memperoleh 13 suara.
Kejutan terjadi saat suara kementerian yang memiliki bobot 35% atau setara 26 suara justru diarahkan kepada Prof. Takdir, kandidat yang akhirnya kalah.
Perlu diketahui bahwa dalam pemilihan rektor UHO rektor berpihak sama Prof Armid sementara menteri timpa suara kepada Prof Takdir dengan selisi 1 suara.

Kondisi ini memantik komentar tajam dari Pengamat Publik, Dr LM Bariun SH MH. Ia menilai kekalahan kandidat yang didukung kementerian sebagai tamparan serius mempermalukan wibawa negara dan menghilangkan kepercayaan publik terhadap menteri.
“Biasanya dukungan menteri menjadi penentu. Tapi kali ini justru mempermalukan diri sendiri. Bagaimana mungkin kementerian mendukung calon yang suaranya kecil akhirnya tumbang dengan selisih tipis satu suara.
Dukungan seharusnya didasarkan pada rekam jejak dan kapasitas calon, bukan pertimbangan spekulatif. Jika kementerian tidak mampu mengukur peta dukungan secara akurat, maka dukungannya bisa berujung pada kegagalan seperti ini,” tegasnya Bariun, dengan awak media ini, di Kendari.
Alumni Fakultas Hukum UHO ini menilai dukungan kementerian kali ini sebagai langkah strategis yang keliru dan fatal. Menurutnya, kementerian semestinya menilai secara objektif rekam jejak dan kekuatan masing-masing kandidat, bukan bersikap spekulatif tanpa basis dukungan kuat.
“Ini preseden buruk. Intervensi politik semacam ini dalam pemilihan rektor justru mencederai semangat demokrasi kampus. Juustru ini ia nilai sebagai langkah yang menimbulkan ekspektasi berlebihan, apalagi jika tak dibarengi dengan penghitungan yang matang terhadap peta dukungan.
Meski demikian, proses Pilrek ini belum sepenuhnya selesai. Masih terbuka ruang pertimbangan dari Kementerian sebelum keputusan final ditetapkan.
“Kekalahan ini bukan soal siapa yang menang, tapi tentang bagaimana kementerian bersikap. Kalau terus bersifat spekulatif tanpa data konkret, maka intervensi mereka hanya akan jadi bumerang dalam dunia kampus,” pungkasnya. (Redaksi)







Komentar