Persahabatan Sejati Yang Tetap Bersinar, Dalam Memaknai Nilai Filosofi Kehidupan

Berita3408 Dilihat

Potretterkini.id- Terdapat satu pesan sederhana namun mendalam dalam hadis “Khoirunnas anfa’uhum linnas” sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain. Nilai itu bukan hanya tentang memberi bantuan saat keadaan mudah, tetapi juga tentang tetap hadir menguatkan, dan memberi arti bagi sesama dalam setiap keadaan kehidupan.

Persahabatan sejati memang tidak diuji saat segalanya berjalan nyaman. Ia justru terlihat paling jelas ketika jabatan telah selesai, pengaruh mulai memudar, dan keramaian perlahan pergi meninggalkan seseorang. Di situlah kesetiaan menemukan maknanya yang sesungguhnya.

Fenomenal tersebut dapat dilihat dari Filosofi persahabatan antara Dr. LM Rusman Emba dan Dr. La Ismeid. Hubungan keduanya bukan sekadar relasi putra daerah asal Muna Sulawesi Tenggara, melainkan potret tentang arti loyalitas, kepedulian, dan pendampingan di tengah dinamika kehidupan sosial dan politik.

Saat beliau memegang puncak kekuasaan menjabat sebagai Bupati Muna, (Rusman Emba red) tentu berada di pusat perhatian. Jabatan selalu menghadirkan banyak orang di sekelilingnya ada yang datang karena hormat, ada yang mendekat karena kepentingan, dan ada pula yang benar-benar tulus sebagai sahabat. Namun seperti yang sering terjadi dalam dunia politik, ketika kekuasaan berakhir, lingkaran itu perlahan mengecil.

Di tengah perubahan itu, La Ismeid memilih tetap berada di sisi sahabatnya. Ia tidak menjadikan jabatan sebagai ukuran kedekatan. Ketika sebagian orang mulai menjaga jarak, ia justru tetap hadir memberi dukungan moral dan semangat. Sikap seperti ini semakin langka di tengah budaya sosial yang sering mengukur hubungan dari manfaat dan kekuasaan.

Kedekatan keduanya juga dipererat oleh perjalanan akademik. LM Rusman Emba dan La Ismeid sama-sama menempuh pendidikan doktoral (S3) pada Program Studi Ilmu Manajemen Konsentrasi Manajemen Strategi Pascasarjana Universitas Halu Oleo. Dunia akademik mempertemukan mereka bukan hanya sebagai sahabat, tetapi juga sebagai sesama pejuang ilmu pengetahuan.

Di ruang kampus, jabatan tidak lagi menjadi ukuran utama. Yang diuji adalah disiplin, gagasan, daya tahan, dan komitmen menyelesaikan tanggung jawab intelektual. Dalam proses itulah persahabatan mereka tumbuh lebih kuat.

La Ismeid sendiri dikenal memiliki pengalaman panjang di dunia kewartawanan dan akademik. Ia pernah menjadi wartawan Kendari Ekspres sebelum kemudian mendirikan perusahaan media Potretterkini.id sebagai Direktur Utama. Latar belakang itu membuatnya memahami bahwa perjalanan seorang tokoh publik tidak selalu berjalan lurus. Ada masa kejayaan, ada pula masa penuh ujian.

Ketika Rusman Emba menghadapi persoalan hukum, persahabatan keduanya memasuki fase yang lebih berat. Pada titik itu, La Ismeid tidak hanya hadir sebagai teman diskusi, tetapi juga menjadi pendamping moral. Kehadirannya menunjukkan bahwa seorang sahabat tidak harus membenarkan semua keadaan, namun juga tidak meninggalkan seseorang saat hidup sedang sulit.

Sikap tersebut penting dipahami secara jernih. Mendampingi sahabat yang tengah menghadapi persoalan hukum bukan berarti menolak proses hukum itu sendiri. Hukum tetap harus dihormati, dan setiap tanggung jawab publik tetap harus dijalani. Namun di sisi lain, setiap manusia juga berhak mendapat ruang untuk bangkit, memperbaiki diri, dan melanjutkan hidupnya.

Kini, setelah melewati masa-masa berat tersebut, fokus baru hadir dalam perjalanan Rusman Emba: menyelesaikan studi doktoralnya. Di fase inilah peran La Ismeid kembali terlihat. Ia terus menjaga semangat sahabatnya agar tetap kuat menata masa depan melalui jalur akademik.

Hal itu bukan sesuatu yang sederhana. Menyelesaikan pendidikan S3 membutuhkan ketahanan mental dan konsistensi tinggi, terlebih bagi seseorang yang baru saja melewati tekanan publik dan proses hukum yang panjang.

Fenomena ini sekaligus menjadi cermin bagi kehidupan sosial dan politik kita hari ini. Banyak orang begitu mudah mendekat saat seseorang memiliki kekuasaan, namun perlahan menghilang ketika jabatan telah berakhir. Kesetiaan sering kalah oleh kepentingan, dan hubungan manusia kerap diukur dari akses terhadap kekuasaan.

Karena itu, sikap La Ismeid memiliki makna simbolik yang kuat. Ia memperlihatkan bahwa persahabatan tidak seharusnya tunduk pada pergantian jabatan. Kekuasaan bisa berpindah, kursi bisa kosong, tetapi hubungan kemanusiaan seharusnya tetap hidup.

Publik pun dapat mengambil pelajaran dari kisah ini. Dalam kehidupan politik, kita sering terlalu cepat memuja dan terlalu cepat menjatuhkan. Saat seseorang berada di puncak, ia diperlakukan seolah tanpa cela. Namun ketika jatuh, ia seakan kehilangan seluruh nilainya. Padahal manusia selalu lebih besar dari sekadar jabatan dan kesalahannya.

Persahabatan LM Rusman Emba dan La Ismeid mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu tentang merebut kekuasaan. Terkadang perjuangan adalah tetap bertahan menyelesaikan pendidikan di tengah cobaan hidup. Terkadang perjuangan adalah tetap mendampingi sahabat ketika banyak orang memilih pergi.

Di tengah budaya yang mudah melupakan seseorang setelah masa jabatannya selesai, kisah ini menjadi pengingat bahwa sahabat sejati tidak hadir hanya ketika keadaan nyaman. Ia tetap ada saat hidup sedang berat, tetap mendampingi ketika dunia mulai menjauh, dan tetap percaya bahwa harapan belum berakhir.

Karena pada akhirnya, persahabatan sejati tidak diuji saat suka datang. Ia justru bersinar paling terang ketika duka menghampiri

Pada akhirnya selamat sahabat terbaik atas ujian Promosi Dr. Ir.Rusman Emba ST.MM dengan Raihan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) sempurna  4.0. di Aula Pascasarjana pada Senin (25/5/2026) Semoga capai akademik ini menjadi langkah mulia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan memperkuat dedikasi  pengabdian pada masyarakat serta menghadirkan kontribusi terbaik bagi daerah Sulawesi Tenggara dan bangsa indonesi (***)

Oleh: Dr.La Ismeid, S.Pd, M.Pd

Komentar