PENDIDIKAN MASIH MENJADI BARANG MEWAH BAGI SEBAGIAN ANAK BANGSA, (Suatu refleksi Peringatan Kemerdekan RI ke-80)

Berita2483 Dilihat

Oleh. Dr. Anidi/Dekan FKIP Unsultra

Potretterkini.id-Pada peringatan tanggal, 17 Agustus 2025, negeri kita genap usianya delapan puluh tahun. Para pendiri bangsa ini, memproklamasikan kemerdekaan dengan tekad bulat, membebaskan negeri ini dari belenggu penjajahan. Namun, kemerdekaan yang kita rayakan ditahun ini belum sempurna jika jutaan anak Indonesia masih terpenjara dalam keterbatasan pendidikan.

Peringatan Hari Kemerdekaan yang ke-80 ini merupakan momentum untuk bersyukur sekaligus bercermin. Kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga bebas dari kebodohan dan ketidaksetaraan. Konstitusi kita, melalui Pasal 31 UUD 1945, telah menegaskan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Namun, realitas di lapangan masih jauh dari cita-cita itu.

Di kota besar, anak-anak menikmati sekolah dengan fasilitas modern, guru berkualitas, dan akses teknologi canggih. Sementara di pelosok negeri, banyak siswa belajar di ruang kelas seadanya, kekurangan guru, dan minim buku bacaan. Ironisnya, mereka yang paling membutuhkan dukungan justru kerap tertinggal dari arus kebijakan yang tidak merata.

Peringatan Hari Kemerdekaan ke-80 ini seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak bahwa kemerdekaan belum tuntas jika pendidikan masih menjadi barang mewah bagi sebagian anak bangsa. Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat harus bersinergi untuk memastikan tidak ada lagi anak yang putus sekolah karena biaya, jarak, atau diskriminasi.

Merdeka berarti memberi kesempatan yang sama untuk bermimpi dan menggapai masa depan, tanpa peduli di mana seseorang dilahirkan. Di usia 80 tahun kemerdekaan ini, mari kita pastikan bahwa sekolah menjadi jembatan menuju masa depan yang setara karena pendidikan adalah hak, bukan hadiah Di pusat kota, anak-anak belajar dengan komputer, guru berkualifikasi tinggi, dan akses informasi tanpa batas.

Tapi di pelosok Nusantara, ada anak yang menempuh perjalanan berjam-jam melewati hutan atau sungai hanya untuk duduk di bangku sekolah reyot. Ada pula yang terpaksa putus sekolah karena biaya, meski cita-cita mereka membumbung setinggi langit.

Pendidikan bukan hadiah yang diberikan kepada mereka yang beruntung, Pendidikan adalah hak yang dijamin konstitusi, janji yang harus ditepati oleh negara kepada setiap anak bangsa. Selama masih ada kesenjangan kesempatan, kemerdekaan kita baru sebatas upacara, bukan kenyataan.
Peringatan Hari Kemerdekaan ke-80 ini harus menjadi titik balik.

Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat harus berani memikul tanggung jawab moral: memastikan setiap anak, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, bisa mengenyam pendidikan yang bermutu.

Kemerdekaan sejati adalah ketika anak-anak di Papua, Kalimantan, NTT, Sulawesi, Maluku hingga Jakarta memiliki peluang yang sama untuk bermimpi, belajar, dan meraih masa depan. Mari kita buktikan bahwa merah putih berkibar di setiap sekolah, di hati setiap anak bangsa karena merdeka itu bukan hanya di tanah dan air, tetapi juga di pikiran.

Kita sering merayakan kemerdekaan dengan gegap gempita upacara bendera, parade/defile, lomba rakyat. Namun, di balik semarak perayaan itu, ada pertanyaan yang perlu kita renungkan: sudahkah kemerdekaan benar-benar sampai ke sekolah-sekolah di seluruh negeri ini ?
Kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga bebas dari kebodohan, diskriminasi, dan ketidaksetaraan kesempatan.

Selama masih ada anak yang tertinggal karena lahir di wilayah yang terpinggirkan, kemerdekaan kita belum utuh.
Hari Kemerdekaan seharusnya menjadi momentum untuk memperjuangkan hak pendidikan yang setara bagi semua.

Pemerintah, swasta, dan masyarakat harus bergandengan tangan: memperbaiki infrastruktur, memeratakan distribusi guru berkualitas, memberikan beasiswa, dan memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan belajar yang sama.

Merdeka itu bukan hanya tentang bendera yang berkibar di lapangan, tetapi juga tentang cahaya pengetahuan yang menyala di setiap kelas, di setiap desa, di setiap hati anak Indonesia. Saat merah putih berkibar di sekolah-sekolah pelosok dengan anak-anak yang belajar penuh semangat, di situlah kemerdekaan benar-benar hadir. (**)

Komentar