Potretterkini.id. MUNA-Pemerintah Desa Madodo, Kecamatan Kontunaga, Kabupaten Muna bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tangkaliwu menggelar panen raya bawang merah, Sabtu (13/9/2025). Acara ini dihadiri langsung Bupati Muna, H. Bachrun La Buta, Wakil Bupati La Ode Asrafil Ndoasa, jajaran TNI-Polri yang mewakili, pelaksana Camat, Para Kades Se- kecamatan Kontunaga serta masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, Bupati Bachrun mengingatkan soal pentingnya profesionalisme dalam pengelolaan BUMDes. Ia menekankan agar penempatan pengurus BUMDes mendahulukan orang-orang potensial, bukan karena hubungan keluarga atau kedekatan politik.
“BUMDes ini kalau dikelola oleh ahlinya, pasti akan terus bertumbuh dan berkembang. Maka saya pesan kepada kepala desa, jangan tempatkan pengurus BUMDes karena pendekatan emosional, tapi karena kemampuan,” ujar Bachrun.
Bupati juga menyinggung perubahan nama Desa Mabodo menjadi Desa Madodo. Menurutnya, penggunaan nama asli Madodo lebih tepat sekaligus menghindarkan dari plesetan.
Selain itu, ia berjanji pemerintah daerah akan mendukung kebutuhan teknis, terutama pasokan air untuk pertanian. Pembangunan bak penampungan air hujan direncanakan, bahkan jika memungkinkan akan dialirkan dari Kecamatan Tongkuno ke Kontunaga.
Kades Madodo: Desa Pertanian dan Peternakan
Kepala Desa Madodo, Anas Boi, dalam laporannya menyebutkan, wilayah desa seluas 11,23 km², di mana sebagian besar dimanfaatkan untuk pertanian dan peternakan.
Ia menjelaskan, pengelolaan dana desa sebagian diarahkan ke BUMDes Tangkaliwu. Dengan kepengurusan baru dan kolaborasi semua pihak, BUMDes kini mampu produktif.
“Harapan kami, dana ketahanan pangan bisa dimanfaatkan secara merata, termasuk pengembangan bawang merah dan tomat yang sangat cocok dengan tanah Madodo,” tutur Anas.
Sistem Bagi Hasil dan Tantangan Air
Ketua BUMDes Tangkaliwu, Ruslamin, S.Pd., menjelaskan mekanisme kerja sama dengan petani. Selama empat bulan, petani tidak digaji, namun bermitra dengan sistem bagi hasil: 50% untuk petani, 40% untuk BUMDes, dan 10% untuk pendamping teknis.
Lahan seluas 800 meter persegi yang diolah sejak 12 Mei 2025 ini menggunakan varietas bawang merah Thailand Nganjuk dengan 400 kg bibit. Total anggaran mencapai Rp220 juta untuk dua kali penanaman, termasuk biaya pupuk dan air.
Ruslamin mengungkapkan, sejak masa tanam hingga panen, kebutuhan air mencapai sekitar 200 tangki dengan nilai kurang lebih Rp30 juta. Pihaknya akan mengevaluasi efektivitas metode ini agar tetap menguntungkan.
Pendamping: Memahami Bahasa Tanaman
Pendamping teknis, Mashuri, menuturkan keberhasilan ini tak lepas dari kerja keras serta keyakinan menghadapi pesimisme masyarakat.
“Kunci suksesnya, saya belajar memahami bahasa tanaman: apa yang mereka butuhkan agar tumbuh subur. Meski awalnya banyak yang meragukan, ternyata pertanian bawang merah ini berhasil,” jelasnya.
Sentral Pemasok Bawang Merah
Dengan semangat itu, para pendamping dan petani berharap Desa Madodo bisa menjadi sentral pemasok bawang merah di Kabupaten Muna.
Acara panen raya ditutup dengan doa bersama dan syukur atas keberhasilan petani Madodo.
Kontributor : Aswin Rudi







Komentar