MENAFSIR ULANG SYARIAT QURBAN DI TENGAH KEMISKINAN STRUKTURAL

OPINi3504 Dilihat

Potretterkini.id-Tanggal 10 Dzulhijah selalu menghadirkan suasana religius yang khas bagi umat Islam di seluruh dunia. Takbir berkumandang, masjid, langgar, mushollah, dan lapangan yang yang disiapkan dipenuhi oleh jamaah, dan hewan-hewan kurban mulai disiapkan untuk disembelih sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Idul adha bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum spiritual yang sarat dengan nilai pengorbanan, keikhlasan, solidaritas, dan kemanusiaan.

Di balik suasana sakral tersebut, realitas sosial masyarakat hari ini menyuguhkan ironi yang tidak sederhana. Di tengah meningkatnya angka kemiskinan, ketimpangan ekonomi, pengangguran, dan mahalnya kebutuhan hidup, syariat kurban sering kali berhenti pada ritual simbolik semata. Daging kurban dibagikan sesaat, tetapi kemiskinan struktural tetap bertahan sepanjang tahun.

Pertanyaannya, apakah Qurban hanya dimaknai sebagai penyembelihan hewan? Ataukah terdapat pesan sosial yang lebih mendalam dari syariat Idul adha yang perlu ditafsir ulang dalam konteks kehidupan kekinian..?

QURBAN DAN SPIRIT PENGORBANAN SOSIAL

Dalam sejarah Islam, peristiwa kurban berakar dari keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS tentang kepatuhan total kepada perintah Allah SWT. Spirit utama dari kisah tersebut bukan hanya tentang penyembelihan, melainkan tentang kesediaan mengorbankan ego, kepentingan pribadi, dan kecintaan duniawi demi nilai yang lebih luhur.

Esensi Qurban sejatinya bukan terletak pada darah dan daging semata. Al-Qur’an secara tegas menyatakan dalam QS. Al-Hajj: 37, bahwa: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Ayat tersebut memberikan pesan mendasar bahwa kurban harus melahirkan transformasi moral dan sosial. Ketakwaan tidak cukup diwujudkan dalam ritual ibadah individual, tetapi juga dalam keberpihakan terhadap persoalan kemanusiaan.

Di tengah kemiskinan struktural, makna pengorbanan perlu diperluas menjadi keberanian untuk melawan ketidakadilan sosial, membela kaum lemah, dan menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata.

KEMISKINAN STRUKTURAL DAN KEGAGALAN SOLIDARITAS

Kemiskinan yang terjadi di masyarakat bukan semata akibat kemalasan individu. Banyak masyarakat miskin terjebak dalam sistem sosial dan ekonomi yang tidak adil: akses pendidikan terbatas, lapangan pekerjaan minim, distribusi sumber daya timpang, serta kebijakan pembangunan yang sering kali tidak berpihak kepada rakyat kecil. Dalam kondisi seperti ini, Iduladha seharusnya menjadi ruang refleksi kolektif. Bahwa masih banyak keluarga yang hanya bisa menikmati daging setahun sekali menunjukkan adanya ketimpangan sosial yang serius. Di sinilah syariat kurban memiliki dimensi kritik sosial terhadap sistem yang gagal menghadirkan keadilan.

Sayangnya, di era GLOBAL/saat ini, praktik kurban terkadang bergeser menjadi simbol status sosial. Tidak sedikit orang berlomba menampilkan hewan kurban terbesar demi pengakuan publik dan pencitraan sosial, terutama di media sosial. Spirit keikhlasan perlahan tergantikan oleh budaya pamer religiusitas (Performative religiosity).

Padahal kehadiran Islam sangat menekankan nilai kesederhanaan, kepedulian, dan keadilan sosial. Kurban bukan ajang kompetisi prestise, melainkan media membangun solidaritas kemanusiaan.

MENAFSIR ULANG SYARIAT KURBAN

Menafsir ulang syariat Qurban bukan berarti mengubah hukum agama, melainkan memperluas pemahaman terhadap tujuan sosialnya. Dalam perspektif maqashid syariah, setiap syariat Islam bertujuan menghadirkan kemaslahatan bagi manusia. Qurban perlu dipahami sebagai gerakan sosial yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Distribusi daging kurban penting, tetapi lebih penting lagi bagaimana Idul Adha mampu menumbuhkan kesadaran kolektif untuk mengurangi kemiskinan secara berkelanjutan.

Spirit Qurban hari ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk yaitu: membantu pendidikan anak-anak miskin, memperkuat ekonomi masyarakat kecil, mendukung petani dan peternak lokal, membangun solidaritas pangan, dan hingga memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada rakyat/umat. Idul adha mengajarkan bahwa iman tidak boleh terpisah dari persoalan sosial. Kesalehan ritual harus berjalan seiring dengan kesalehan sosial.

IDULADHA DAN MASA DEPAN KEMANUSIAAN

Momentum 10 Dzulhijah 1447 H/27 Mei 2026 seharusnya tidak hanya menjadi perayaan keagamaan tahunan, tetapi juga panggilan moral (MORAL CALLING) bagi umat Islam untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan manusiawi.

Kita membutuhkan paradigma keberagamaan yang tidak berhenti pada simbol, tetapi hadir sebagai kekuatan transformasi sosial. Sebab, Allah SWT tidak hanya melihat seberapa banyak hewan yang disembelih, tetapi juga seberapa besar kepedulian kita terhadap penderitaan sesama manusia.

Idul adha sejatinya menjadi pendidikan cinta, kasih saying, keikhlasan, dan keberanian berkorban demi kemaslahatan bersama. Ketika masih banyak umat/rakyat hidup dalam kemiskinan struktural, maka Qurban seharusnya tidak hanya dipahami sebagai ibadah tahunan, melainkan sebagai gerakan sosial untuk menghadirkan keadilan/kedamaian hidup.

Mengakhiri tulisan, bahwa menafsir ulang syariat Qurban berarti menghidupkan kembali ruh Islam sebagai agama yang membela kemanusiaan, menegakkan keadilan, dan memuliakan orang-orang lemah. Bahwa nilai tertinggi dari Qurban bukan terletak pada apa yang kita sembelih, melainkan sejauh mana kita mampu mengorbankan kepentingan diri demi kesejahteraan umat/sesame (The welfare of fellow human beings).

Oleh: Dr. Anidi, S.Ag., M.Si., M.S.I., M.H/Dosen Magister Adpen UM Kendari

Komentar