Potretterkini.id.MUNA-Di balik rimbun mangrove yang kini mulai menghijau di pesisir Muna, ada cerita tentang perubahan, harapan, dan inovasi. Sebuah ide sederhana dari seorang warga binaan Rutan Kelas IIB Raha, yang tak banyak disangka, justru menjadi fondasi program konservasi terbesar PT Mitra Pembangunan Sultra (MPS).
Dwi Bayu, Direktur PT MPS, tak menyangka bahwa percakapan singkat dengan warga binaan yang terlibat dalam program kemitraan asimilasi akan melahirkan gagasan visioner. “Dia bilang, ‘Pak, kalau kita tanam mangrove, kita bukan hanya menjaga alam, tapi juga memberi makan untuk masa depan.’ Kalimat itu menampar saya. Dari situ, saya yakin bahwa program CSR kami harus punya nyawa,” kenang Bayu.
Dari Hutan ke Harapan
Kini, hutan mangrove PT MPS bukan sekadar area reboisasi. Bersama Pemkab Muna, perusahaan ini mengembangkan konsep wisata hijau dengan tiga pilar: konservasi, edukasi, dan rekreasi. Bagi Bayu, ini bukan hanya urusan bisnis, tapi tentang mengembalikan keseimbangan antara manusia dan alam.
Plt. Kadis Pariwisata Muna, Muhammad Safei Sahli, menegaskan langkah ini sebagai model inovasi CSR yang langka di Sulawesi Tenggara. “Kita ingin memastikan program ini punya dasar hukum, punya arah jangka panjang, dan berpihak pada ekosistem. Bukan sekadar tempat rekreasi, tapi juga pusat edukasi lingkungan,” ujarnya dengan mantap.
*Ekonomi Hijau yang Tumbuh Bersama Alam*
Tak berhenti di penanaman mangrove, PT MPS merancang circular economy berbasis ekosistem. Di area konservasi, masyarakat akan diajak membudidayakan kepiting bakau, ikan bandeng, hingga udang, menciptakan model usaha yang menyatu dengan kelestarian pesisir.
“Kami ingin bukti nyata bahwa menjaga lingkungan bisa berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” jelas Bayu.
Cerita dari Balik Jeruji
Yang membuat program ini istimewa adalah keberanian untuk melihat potensi dari tempat yang tak biasa. Warga binaan yang memberikan ide dasar program ini kini menjadi simbol bahwa kontribusi positif bisa lahir dari siapa saja, bahkan dari mereka yang sedang menjalani masa hukuman.
“Ini soal nilai kemanusiaan. Saya terinspirasi bahwa setiap orang berhak mendapat kesempatan memberi makna,” kata Bayu dengan nada haru.
Menuju Ekowisata Kelas Dunia
Pemkab Muna tak ingin setengah hati. Dalam sepekan, Dinas Pariwisata akan menuntaskan regulasi yang akan menjadi payung hukum pengelolaan kawasan mangrove ini. “Kami ingin melahirkan destinasi wisata yang bukan hanya cantik secara visual, tapi juga punya pesan moral tentang pelestarian alam,” ucap Safei.
Sebagai puncak program, PT MPS akan menggelar kampanye “Manusia Sehat Terlahir dari Lingkungan yang Sehat,” dengan penanaman 50 ribu pohon mangrove serta pelepasan bibit kepiting bakau. Kegiatan ini direncanakan akan diresmikan langsung oleh Bupati Muna, sebagai bentuk dukungan penuh pemerintah.
Sebuah Warisan untuk Masa Depan
Bayu berharap program ini bisa menjadi benchmark nasional. “Mangrove ini bukan sekadar pohon. Dia adalah pelindung bumi, rumah bagi biota laut, dan pelajaran hidup bagi kita. Kami ingin meninggalkan warisan untuk anak cucu,” tutupnya.
Kontributor : Aswin Rudi







Komentar