Ketika Maulid Tak Sekedar Seremoni, Refleksi Akhlak Rasulullah Dalam Pemikiran Buya Hamka

OPINi253 Dilihat

Potretterkini.id-Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 kembali menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk mengenang kelahiran manusia agung yang membawa risalah Islam sekaligus menghadirkan teladan akhlak bagi seluruh sekalian alam.

Maulid umumnya diperingati melalui pengajian, pembacaan shalawat, ceramah keagamaan, dan berbagai kegiatan sosial. Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, muncul pertanyaan mendasar: apakah Maulid hanya berhenti sebagai seremoni tahunan, atau benar-benar menjadi momentum untuk menghidupkan kembali akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika kehidupan sosial saat ini diwarnai berbagai persoalan: konflik di ruang publik, ujaran kebencian, penyebaran informasi yang tidak benar, intoleransi, krisis keteladanan, serta kecenderungan sebagian masyarakat menilai orang lain lebih mudah daripada memperbaiki diri sendiri.

Pemikiran Buya Hamka menjadi relevan, bahwa agama tidak cukup hanya dipahami sebagai kumpulan ritual, tetapi harus melahirkan kepribadian, akhlak, dan perbuatan nyata. Islam harus hadir dalam kehidupan manusia sebagai kekuatan moral (Moral Authority) yang membentuk karakter dan peradaban.

Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya tidak berhenti pada seremoni, simbol, dan kemeriahan kegiatan keagamaan. Hakikat Maulid adalah menghadirkan kembali akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan pribadi, sosial, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Dalam perspektif Buya Hamka, kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup dinyatakan melalui ucapan dan perayaan, tetapi harus dibuktikan melalui keteladanan. Rasulullah SAW merupakan teladan dalam kejujuran, amanah, kesederhanaan, keberanian, kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama manusia.

Al-Qur’an menegaskan bahwa Rasulullah SAW merupakan USWATUN HASANAH, yakni teladan yang baik bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan keselamatan di akhirat.

Rasulullah juga diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dengan demikian, dimensi akhlak merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari risalah kenabian. Pemikiran Buya Hamka menempatkan akhlak sebagai fondasi penting dalam kehidupan manusia. Dalam karya-karyanya, Hamka tidak memisahkan antara keimanan, ibadah, akhlak, dan kehidupan sosial.

Keberagamaan yang baik harus tercermin dalam perilaku, seseorang tidak cukup hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi harus mampu menjadikan pengetahuan tersebut sebagai kekuatan untuk memperbaiki dirinya dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Di sinilah persoalan Maulid menjadi penting. Setiap tahun umat Islam dapat berkumpul untuk mendengarkan kisah Rasulullah SAW.

Kita mengetahui bagaimana Rasulullah memperlakukan orang miskin, menyayangi anak-anak, menghormati perempuan, memaafkan orang yang bersalah, berlaku adil kepada sahabat maupun orang yang berbeda dengannya, serta tetap menjaga kejujuran dan amanah dalam kehidupan sosial.

Kejujuran Rasulullah, misalnya, harus tercermin dalam perilaku sehari-hari: tidak melakukan manipulasi, tidak menyebarkan berita palsu, tidak melakukan korupsi, dan tidak menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi.

Amanah Rasulullah harus diwujudkan dalam tanggung jawab terhadap pekerjaan, keluarga, organisasi, masyarakat, dan negara. Fakta sosial hari ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan lebih banyak seremoni keagamaan, tetapi juga membutuhkan penguatan karakter dan keteladanan.

Problem terbesar dalam peringatan Maulid bukanlah pada kegiatan seremoninya, tetapi harus memiliki nilai penting sebagai sarana menjaga tradisi, memperkuat ukhuwah, dan mengingat kembali sejarah kehidupan Rasulullah SAW.

Maulid dapat kehilangan makna apabila seseorang begitu antusias memuji Rasulullah dalam sebuah majelis, tetapi setelah keluar dari majelis tersebut masih mudah menghina orang lain. Kita dapat berbicara tentang kasih sayang Rasulullah, tetapi masih mempertahankan kebencian terhadap kelompok yang berbeda pilihan politik, organisasi, maupun pandangan.

Keberagamaan tidak boleh hanya berhenti pada kesalehan individual, tetapi harus melahirkan kesalehan sosial. Maulid karenanya harus menjadi ruang introspeksi. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya Seberapa besar kecintaan kita kepada Rasulullah?, tetapi juga seberapa jauh akhlak Rasulullah telah hadir dalam diri kita?

Peringatan Maulid Nabi 1448 H/2026 perlu diarahkan menjadi gerakan transformasi akhlak (Moral Transformation Movement), Terdapat beberapa gagasan yang dapat dilakukan dalam memperingati kelahiran Nabi SAW, yaitu: Pertama, mengubah orientasi Maulid dari sekadar perayaan menjadi refleksi.

Setiap kegiatan Maulid perlu menghadirkan ruang untuk mengevaluasi perilaku pribadi dan sosial. Ceramah tidak hanya berisi kisah tentang Rasulullah, tetapi juga bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam konteks kehidupan hari ini. Kedua, menjadikan akhlak Rasulullah sebagai gerakan sosial.

Nilai kejujuran dapat diwujudkan melalui gerakan antikorupsi, nilai kepedulian melalui kegiatan sosial; nilai kebersihan melalui gerakan menjaga lingkungan; dan nilai persaudaraan melalui penguatan toleransi serta solidaritas masyarakat.

Ketiga, menghadirkan akhlak kenabian di ruang digital. Media sosial harus menjadi ruang untuk menyebarkan ilmu, kedamaian, dan informasi yang bermanfaat. Semangat tabayyun, kesantunan, dan tanggung jawab harus menjadi bagian dari etika bermedia sosial umat Islam.

Keempat, memperkuat keteladanan di lingkungan keluarga dan pendidikan. Anak-anak tidak cukup hanya diajarkan kisah Nabi Muhammad SAW. Mereka harus melihat contoh nyata dari orang tua, guru, pemimpin, dan tokoh masyarakat yang menghidupkan nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kasih sayang, dan keadilan.

Kelima, menjadikan Maulid sebagai momentum membangun kepemimpinan berakhlak. Dalam kehidupan publik, masyarakat membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas dan memiliki kemampuan administratif, tetapi juga memiliki integritas, amanah, keberanian moral, dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 hendaknya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang berubah dalam diri kita setelah mengenang Rasulullah?. Pemikiran Buya Hamka mengingatkan bahwa agama harus menghadirkan manusia yang memiliki kepribadian dan akhlak.

Karena itu, mencintai Rasulullah SAW tidak cukup dengan memperbanyak pujian, shalawat, atau menghadiri peringatan Maulid. Cinta kepada Rasulullah harus menemukan bentuknya dalam kejujuran, amanah, kasih sayang, keadilan, kesederhanaan, keberanian membela kebenaran, serta kepedulian terhadap sesama. (**)

Oleh: Ustadz  Dr. Anidi, S.Ag., M.Si., M.S.I., M.H
Dosen Magister Administrasi Pendidikan Universitas Muhammadiyah  Kendari

Komentar