Potretterkini.id, BUTON UTARA –Antrean kendaraan di lintasan penyeberangan Amolengo-Labuan, Kabupaten Buton Utara, Sulawesi Tenggara, terus menjadi perhatian. Sejak Agustus 2026, layanan penyeberangan hanya mengandalkan satu unit kapal yang beroperasi sehingga kapasitas angkutan kendaraan menjadi terbatas.
Kondisi tersebut membuat kendaraan harus mengantre cukup lama di kawasan Pelabuhan Penyeberangan Amolengo-Labuan. Bahkan, aktivitas penyeberangan terpaksa berlangsung hingga tengah malam untuk mengurai penumpukan kendaraan.
Kepala UPTD Pelabuhan Penyeberangan Amolengo-Labuan, Idham, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan, saat ini hanya Kapal Simumu yang masih beroperasi melayani penyeberangan.
“Benar, Pak. Kapal yang beroperasi saat ini tinggal Kapal Simumu. Kapasitasnya untuk mengangkut kendaraan juga sangat terbatas, sekitar 30 unit kendaraan,” ujar Idham.
Menurutnya, pihak UPTD telah menyampaikan kondisi tersebut kepada instansi terkait agar segera dicarikan solusi, terutama dengan menghadirkan kapal pengganti.
Idham menjelaskan, kapal yang sebelumnya melayani lintasan Amolengo-Labuan saat ini sedang menjalani proses docking. Karena itu, keberadaan kapal pengganti dinilai sangat mendesak untuk menjaga kelancaran arus kendaraan di lintasan tersebut.
“Sudah kami sampaikan agar ada kapal pengganti. Dinas Perhubungan juga sudah menyurat kepada ASDP untuk segera menyiapkan kapal pengganti,” katanya di konfirmasi awak media Selasa, (11/8/2026).
Tak hanya Dinas Perhubungan, Pemerintah Kabupaten Buton Utara juga disebut telah melayangkan surat resmi kepada pihak ASDP. Langkah tersebut dilakukan karena tingginya volume kendaraan yang menggunakan lintasan Labuan-Amolengo.
Idham mengatakan, keterbatasan armada membuat waktu operasional kapal harus diperpanjang. Dalam beberapa kondisi, pelayanan bahkan berlangsung hingga tengah malam demi menyelesaikan antrean kendaraan.
Situasi tersebut bukan hanya berdampak pada kenyamanan pengguna jasa, tetapi juga menyangkut aspek keselamatan. Pengendara yang harus menunggu hingga larut malam berpotensi mengalami kelelahan dan mengantuk saat melanjutkan perjalanan.
“Kalau berkendara sampai tengah malam, konsekuensinya cukup besar. Bisa saja pengendara sudah mengantuk sehingga berpotensi membahayakan keselamatan,” jelas Idham.
Ia berharap ASDP dapat segera merealisasikan kapal pengganti sehingga pelayanan penyeberangan kembali normal dan antrean kendaraan dapat ditekan.
“Sudah sekitar dua minggu operasional kapal seperti ini. Tidak ada lagi trip kosong. Begitu selesai pengaturan kendaraan di dalam kapal, langsung berangkat lagi,” ungkapnya.
Menurut Idham, penambahan armada menjadi langkah penting untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan sekaligus memastikan masyarakat pengguna jasa penyeberangan mendapatkan pelayanan yang aman dan lancar. (Med)







Komentar