Jembatan Teluk Kendari : Simbol Kemajuan yang Menjadi Saksi Sunyi Tragedi Jiwa

Metro Kota2430 Dilihat

Potretterkini.id, KENDARI- Di balik gemerlap malam dan kemegahan arsitektur Jembatan Teluk Kendari, tersimpan kisah-kisah kelam yang jarang terdengar. Jembatan yang seharusnya menjadi lambang kemajuan Kota Kendari, kini juga dikenal sebagai titik pilu: tempat di mana sejumlah anak muda memilih mengakhiri hidup mereka.

Langit malam 1 Juni 2025 tak hanya membawa kegelapan, tapi juga kabar duka. Seorang pemuda kembali ditemukan tewas, diduga bunuh diri dengan melompat dari Jembatan Bahteramas. Ini bukan insiden pertama. Dalam dua tahun terakhir, sudah lima kali tragedi serupa terjadi dan semuanya meninggalkan luka mendalam di hati keluarga dan masyarakat.

Tragedi-tragedi tersebut terjadi pada 28 Juni 2023, 10 Oktober 2023, 27 Maret 2025, 27 April 2025, hingga yang terbaru pada 1 Juni 2025. Sebagian besar korban adalah pemuda dengan riwayat depresi. Mereka tenggelam dalam kesepian, tanpa pegangan, di tengah riuh kota yang terus bergerak.

Seorang ibu korban, yang anaknya meninggal pada April lalu, berkata dengan suara lirih, “Dia sudah dirawat karena depresi. Tapi sepulang dari rumah sakit, dia merasa dunia makin sempit. Tak ada pekerjaan, tak ada yang mendengar.”

Kisah serupa datang dari keluarga lainnya. Masalah ekonomi, pengangguran, hingga keterasingan sosial menjadi benang merah yang menyatukan mereka. Sayangnya, belum ada sistem perlindungan atau dukungan psikologis yang aktif di titik-titik rawan seperti Jembatan Bahteramas.

Menurut komunitas peduli kesehatan mental di Kendari, hingga kini tidak tersedia fasilitas konseling permanen, pos penjagaan, rambu peringatan, atau bahkan CCTV yang bisa mencegah aksi bunuh diri di area tersebut.
Respons pemerintah kota pun dinilai lamban. Hingga korban kelima, tak ada langkah nyata yang menyentuh akar persoalan.

Korban terakhir adalah AI (23), seorang mahasiswa asal Kecamatan Abeli yang tengah menyusun proposal skripsi di salah satu perguruan tinggi di Kendari. Ia bukan hanya angka statistik, tapi cerminan krisis yang nyata.

Aswin, pengurus Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Tenggara, menilai bahwa tragedi berulang ini menunjukkan kegagapan pemerintah dalam menangani isu kesehatan jiwa.

“Jangan hanya berbangga dengan slogan ‘Kota Bertaqwa’ kalau nyawa warga yang rentan tidak dilindungi. Kita butuh kebijakan nyata, bukan retorika,” tegasnya.

Ia mendorong agar segera diterbitkan Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang pencegahan bunuh diri, pembentukan Tim Respons Cepat Kesehatan Jiwa, pendirian posko konseling di ruang publik, serta peningkatan alokasi anggaran kesehatan mental dalam APBD.

Kini, Jembatan Bahteramas masih berdiri gagah, mobil dan motor melintas seperti biasa. Namun bagi sebagian warga Kendari, jembatan itu bukan lagi sekadar penghubung dua daratan. Ia adalah pengingat bisu tentang nyawa-nyawa yang terjatuh karena sunyi yang tak sempat terdengar.

Kontributor: Aswin Rudi

Komentar