Potretterkini.id, KENDARI– Efisiensi dan tekanan perubahan global tidak hanya mengguncang sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, maupun dunia usaha. Gelombang perubahan itu juga menerpa industri media, terutama media konvensional yang selama puluhan tahun menjadikan koran sebagai salah satu sumber utama informasi publik.
Salah satu yang kini harus menghadapi kenyataan tersebut adalah Koran Harian Rakyat Sultra, yang sebelumnya dikenal sebagai Koran Harian Kendari Ekspres.
Terhitung 30 September 2026, Rakyat Sultra secara resmi mengakhiri operasionalnya dalam menyajikan pemberitaan kepada publik melalui media cetak.
Kabar itu terasa berbeda bagi mereka yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang koran tersebut. Bukan sekadar kabar berhentinya sebuah perusahaan media, tetapi seperti kabar tentang berakhirnya sebuah sekolah yang pernah melahirkan banyak wartawan di Sulawesi Tenggara.
Informasi mengenai berakhirnya operasional Rakyat Sultra pertama kali saya lihat melalui unggahan di media sosial Facebook dari rekan kerja saya dahulu, Hermawan, bersama sejumlah teman yang berkumpul di kantor tersebut.
Mereka tampak mengabadikan momen kebersamaan. Ada suasana perpisahan yang tersirat dalam foto dan unggahan itu.
Saya sempat terdiam. Benarkah koran yang selama ini kami kenal sebagai salah satu media besar di Sulawesi Tenggara itu benar-benar berhenti beroperasi?
Atau jangan-jangan informasi tersebut hanya sebuah kabar yang belum sepenuhnya dapat dipercaya?
Secangkir kopi di halaman kantor Media Potretterkini.id menjadi saksi bagaimana kabar itu saya cerna perlahan. Antara percaya dan tidak percaya, ingatan saya justru kembali kepada masa ketika pertama kali mengenal dunia kewartawanan melalui perusahaan tersebut.
Rakyat Sultra Bukan Sekadar Nama Sebuah Koran.
Bagi kami yang pernah bekerja di dalamnya, Rakyat Sultra adalah bagian dari perjalanan hidup, tempat belajar, tempat ditempa, sekaligus ruang pertama untuk memahami bagaimana profesi wartawan sesungguhnya dijalankan.
Media tersebut memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Cikal bakalnya dikenal sebagai Media Kita, kemudian berkembang menjadi Kendari Ekspres, sebelum menggunakan nama Rakyat Sultra pada era kepemimpinan H. Abdul Haliq.
Puluhan tahun perjalanan tentu meninggalkan jejak yang tidak sedikit. Di balik lembaran koran yang setiap pagi sampai ke tangan pembaca, ada wartawan yang bekerja sejak pagi, siang, sore, bahkan malam untuk memastikan sebuah peristiwa dapat disajikan menjadi berita.
Kami adalah bagian kecil dari perjalanan itu. Di perusahaan tersebut, kami mulai meniti karier sebagai wartawan dengan bimbingan para senior yang telah lebih dahulu merasakan kerasnya kehidupan jurnalistik.
Mereka bukan hanya mengajarkan bagaimana menulis berita.Kami diajarkan bagaimana mencari fakta, melakukan wawancara, membangun komunikasi dengan narasumber, memeriksa informasi, memahami konteks peristiwa, hingga mempertanggungjawabkan setiap kalimat yang ditulis.
Menulis berita bagi wartawan pemula bukan pekerjaan yang sederhana.Tidak cukup hanya memiliki kemampuan merangkai kata. Seorang wartawan harus mampu menemukan fakta, mengolah informasi, memilih sudut pandang, kemudian menyajikannya secara jelas dan berimbang.
Setiap berita yang ditulis harus melewati proses pemeriksaan dan penyuntingan sebelum akhirnya diterbitkan. Bagi wartawan pemula, coretan editor terkadang terasa berat.
Namun justru dari situlah proses pembelajaran berlangsung. Satu kalimat diperbaiki. Satu paragraf dipangkas. Judul diganti. Data dipertanyakan. Narasumber diminta diperjelas. Bahkan kesalahan kecil dalam penulisan bisa menjadi bahan evaluasi.
Semua itu menjadi bagian dari proses panjang membentuk wartawan yang lebih matang.
Kami dituntut mampu menghasilkan berita aktual dan berkualitas, mulai dari politik, ekonomi, pendidikan, pemerintahan, kriminal, hukum hingga berbagai persoalan yang berkaitan dengan aparat penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan dan pengadilan.
Tugas tersebut tidak selalu mudah. Koordinator liputan dan pimpinan redaksi menuntut wartawan menyelesaikan tugas utama sebelum mengerjakan berita lainnya.
Kadang, kepentingan pribadi harus dikesampingkan ketika deadline sudah menunggu. Makanan bisa terlupakan. Waktu istirahat bisa tertunda. Pulang larut malam menjadi sesuatu yang biasa.
Namun begitulah dunia kewartawanan membentuk kami. Kami belajar bahwa menjadi wartawan bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan, melainkan profesi yang memiliki tanggung jawab sosial.
Setiap berita yang ditulis akan dibaca publik.Setiap informasi yang disampaikan dapat memengaruhi cara orang memahami sebuah persoalan.
Karena itu, pendidikan moral, etika jurnalistik dan cara berkomunikasi dengan narasumber menjadi bagian penting dalam proses pembentukan wartawan.
Kami diajarkan bahwa wartawan harus mampu menjaga independensi, menghormati narasumber, menguji informasi dan tidak mengorbankan kebenaran hanya demi kecepatan berita.
Ada kisah menarik dalam perjalanan saya mengawali karier di perusahaan tersebut. Sebagai wartawan pemula, saya pernah dengan penuh semangat mengetik naskah berita yang panjang di depan komputer.
Saya merasa telah menghasilkan tulisan yang hebat. Namun setelah diserahkan kepada editor, tulisan itu kembali dengan banyak koreksi.
Saat itu mungkin terasa mengecewakan. Tetapi hari ini, setelah bertahun-tahun menjalani dunia jurnalistik, saya justru memahami bahwa koreksi-koreksi itulah yang membentuk kemampuan menulis kami.
Rakyat Sultra dan Kendari Ekspres bagi kami adalah sekolah jurnalistik yang nyata. Sekolah yang tidak selalu memiliki ruang kelas.
Ruang belajarnya adalah kantor redaksi, jalanan, ruang konferensi pers, kantor pemerintah, kepolisian, pengadilan, pasar, sekolah, hingga tempat-tempat kejadian perkara.
Gurunya adalah para senior yang tidak kenal lelah membimbing. Sedangkan ujian kami adalah deadline dan tuntutan untuk menghasilkan berita yang benar. Dalam menjalankan tugas, seorang wartawan juga dituntut turun langsung ke lapangan.
Berita kriminal, misalnya, tidak cukup hanya mengambil satu sumber informasi. Data harus diperiksa, fakta harus dikonfirmasi, dan informasi dari berbagai pihak perlu dihimpun agar berita tidak dibangun atas asumsi.
Dari proses itulah kami memahami bahwa kewartawanan memiliki seni sekaligus tanggung jawab. Profesi ini juga mempertemukan kami dengan banyak orang dari berbagai latar belakang.
Pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, aparat penegak hukum, akademisi, pengusaha hingga masyarakat biasa menjadi bagian dari perjalanan jurnalistik yang kami jalani.
Bukan karena wartawan memiliki kedudukan lebih tinggi, tetapi karena pekerjaan jurnalistik memberikan ruang untuk berkomunikasi dengan banyak kalangan demi memperoleh informasi yang dibutuhkan publik.
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, kabar berhentinya Rakyat Sultra terasa seperti penutup sebuah bab panjang.
Bagi kami, terutama alumni yang pernah menjadi bagian dari perusahaan tersebut, tanggal 30 September 2026 bukan sekadar tanggal berakhirnya operasional sebuah koran.
Tanggal itu menjadi penanda berakhirnya satu era media cetak yang pernah ikut mewarnai perjalanan informasi di Sulawesi Tenggara.
Namun, berhentinya sebuah koran tidak berarti berhentinya seluruh karya orang-orang yang pernah berada di dalamnya.
Perusahaan boleh berhenti beroperasi. Mesin cetak boleh tidak lagi berputar. Lembar koran boleh tidak lagi terbit setiap pagi.
Tetapi pengetahuan, pengalaman, etika dan keterampilan yang pernah ditanamkan kepada para wartawannya akan terus hidup.
Para alumni Rakyat Sultra dan Kendari Ekspres telah menyebar ke berbagai ruang pengabdian.
Sebagian tetap berada di dunia media. Sebagian lainnya berkiprah di lembaga pemerintahan, perusahaan, organisasi, pendidikan dan berbagai bidang profesi lainnya.
Itulah mungkin warisan terbesar sebuah perusahaan media. Bukan hanya koran yang pernah dicetak, melainkan manusia yang pernah dibentuk di dalamnya.
Kami, alumni angkatan 2010, akan selalu mengenang Rakyat Sultra sebagai salah satu tempat yang mengajarkan arti kerja keras, disiplin, keberanian mencari fakta dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi.
Rakyat Sultra mungkin akan menjadi bagian dari sejarah. Tetapi sejarah tidak pernah benar-benar hilang. Ia hidup melalui orang-orang yang pernah melewatinya.
Selamat berpisah, Koran Harian Rakyat Sultra.
Terima kasih atas ruang belajar, tempaan dan pengalaman yang pernah diberikan.
Berhentinya sebuah koran bukan akhir dari perjalanan kewartawanan. Justru dari halaman yang terakhir itu, kedewasaan para wartawannya diuji, apakah nilai-nilai yang pernah ditanamkan akan tetap hidup ketika mesin cetak telah berhenti berputar.
Bagi kami, Rakyat Sultra bukan sekadar koran yang pernah terbit. Ia adalah sekolah, rumah perjuangan dan bagian dari perjalanan hidup.
Karyanya mungkin berhenti tercetak di atas kertas. Namun jejaknya akan terus berjalan bersama orang-orang yang pernah ditempa di dalamnya.
Selamat jalan Rakyat Sultra. Selamat menutup satu babak. Dan selamat menyambut babak baru bagi para insan pers yang pernah tumbuh dari rahimmu (***)
Penulis: Dr. La Ismeid, S.Pd., M.Pd (Alumni Koran Harian Rakyat Sultra (Kendari Ekspres)







Komentar