Potretterkini.id- KENDARI- Kita semua sepakat bahwa El Nino tidak harus berakhir menjadi gagal panen. Yang menentukan bukan hanya seberapa kuat fenomena El Nino berlangsung, tetapi seberapa cepat informasi iklim diterjemahkan menjadi keputusan dan tindakan nyata di sektor pertanian. Informasi mengenai perubahan pola hujan, peningkatan suhu, potensi kekeringan, serta ketersediaan air harus menjadi dasar dalam menentukan waktu tanam, memilih varietas, mengatur kebutuhan air, hingga menyiapkan strategi perlindungan tanaman.
Dengan kata lain, informasi iklim tidak boleh berhenti sebagai laporan atau peringatan, tetapi harus hadir di tingkat petani sebagai panduan praktis dalam mengambil keputusan. El Nino 2026–2027 kini bukan lagi sekadar peringatan dini. Bagi Sulawesi Tenggara, fenomena ini harus diperlakukan sebagai persoalan strategis yang menyangkut ketersediaan air, produksi pangan, pendapatan petani, stabilitas harga pangan, dan ketahanan pangan daerah.
Jika tidak diantisipasi sejak awal, kekeringan yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko penurunan produktivitas, memperbesar biaya produksi, mengganggu pola tanam, serta menekan pendapatan rumah tangga petani. Dampaknya pun tidak berhenti di lahan pertanian, tetapi dapat merembet pada harga komoditas, daya beli masyarakat, pasokan pangan dan stabilitas ekonomi daerah.
Karena itu, Sulawesi Tenggara membutuhkan respons yang lebih cepat, terukur dan berbasis informasi iklim. Pemerintah daerah bersama dinas teknis, perguruan tinggi, BMKG, penyuluh, kelompok tani dan pelaku usaha pertanian perlu membangun langkah antisipatif yang konkret, mulai dari penyesuaian kalender tanam, penguatan cadangan dan tata kelola sumber air, penggunaan varietas yang lebih adaptif terhadap kekeringan, hingga penguatan sistem informasi dan peringatan dini bagi petani.
Kita tidak boleh menunggu dampak El Nino menjadi nyata baru kemudian bertindak. Kunci menghadapi El Niño adalah mengubah prediksi menjadi aksi, risiko menjadi kesiapsiagaan, dan informasi iklim menjadi keputusan pertanian yang tepat waktu.
Pusat Perubahan Iklim (PPI) ITB dalam siaran pers 13 Agustus 2026 mengingatkan bahwa El Nino 2026–2027 berpotensi berada pada kategori kuat hingga sangat kuat. Dalam dokumen tersebut, indeks Nino 3.4 telah mencapai 1,56 pada akhir Juni dan diperkirakan terus meningkat hingga puncak sekitar Desember 2026–Januari 2027.
Perkembangan terbaru bahkan lebih serius. Analisis BMKG Dasarian I Agustus 2026 mencatat indeks Nino 3.4 sebesar +2,77, yang menunjukkan El Niño berada pada intensitas sangat kuat.
Lima data yang harus menjadi alarm Sultra. Pertama, sebagian wilayah Sultra mengalami awal musim kemarau 10–20 hari lebih cepat dibanding normal. Data dalam bahan yang saya gunakan menunjukkan Bombana, Konawe, Konawe Selatan, Buton Tengah, Muna Barat, Buton, Buton Selatan, Buton Utara, Baubau, Muna dan Kota Kendari telah memasuki kemarau sejak pertengahan Juni.
Kedua, Kolaka dan Kolaka Timur termasuk wilayah yang memasuki kemarau lebih belakangan, sehingga strategi pertaniannya tidak dapat disamakan dengan kabupaten yang sudah lebih dahulu mengalami kekeringan.
Ketiga, puncak kemarau Sultra diperkirakan berlangsung sekitar Agustus–Oktober 2026. Artinya, sekarang adalah periode ketika pemerintah dan petani harus berada pada fase aksi, bukan lagi sekadar sosialisasi.
Keempat, BMKG telah memasukkan Sulawesi Tenggara dalam wilayah yang mendapat peringatan dini kekeringan meteorologis pada Dasarian III Juli 2026.
Kelima, BMKG memperkirakan kondisi El Nino kuat bertahan hingga awal kuartal I 2027 dan potensinya dapat semakin diperkuat oleh IOD positif pada periode September–Desember 2026.
Lima data ini menunjukkan satu hal: Sultra tidak boleh menggunakan pola kebijakan pertanian normal untuk menghadapi musim yang tidak normal.
Risiko terbesar adalah keterlambatan bertindak.
El Nino tidak otomatis berarti seluruh Sultra akan mengalami gagal panen. Dampaknya berbeda menurut lokasi, musim, jenis tanah, sistem irigasi, komoditas dan kemampuan petani beradaptasi. Karena itu, pendekatan yang tepat bukan menakut-nakuti petani, melainkan mengidentifikasi wilayah yang paling rentan.
Bahan PPI ITB menunjukkan bahwa pada kondisi El Niño, produksi padi dapat mengalami penurunan akibat berkurangnya produktivitas, menyusutnya luas tanam dan luas panen. Bahkan El Niño yang berlangsung lintas tahun dapat menyebabkan mundurnya awal musim tanam dan berdampak terhadap produksi tahun berikutnya.
Secara nasional, data yang disajikan PPI ITB menunjukkan penurunan produksi padi pada sejumlah kabupaten selama El Nino umumnya berkisar 5–15 persen, sedangkan peningkatan luas tanaman padi yang mengalami kekeringan dapat mencapai sekitar 360 persen pada musim kemarau dan 220 persen pada musim hujan dibanding kondisi normal. Karena itu, Sultra membutuhkan kebijakan yang bergerak sebelum tanaman mengalami cekaman berat.
Lima kebijakan yang perlu segera dilakukan
Adanya fenomena El-Nino yang kuat maka ada lima kebijakan yang perlu dilakukan. Pertama, bentuk Posko Ketahanan Pangan dan Iklim Sultra 2026–2027. Posko ini harus mengintegrasikan BMKG, Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas SDA, BPBD, perguruan tinggi, penyuluh dan pemerintah kabupaten/Kota serta para pihak termasuk media. Informasi iklim harus diterjemahkan menjadi rekomendasi operasional per wilayah.
Kedua, susun Kalender Tanam Adaptif Sultra. Kalender tanam tidak boleh lagi hanya berbasis kebiasaan historis. Waktu tanam harus disesuaikan dengan prakiraan hujan, ketersediaan air, umur varietas dan risiko kekeringan setiap wilayah.
Ketiga, prioritaskan program “satu wilayah satu strategi air”. Wilayah yang memiliki jaringan irigasi harus mengoptimalkan efisiensi distribusi air. Wilayah tadah hujan perlu memperkuat embung, panen air hujan, sumur, pompanisasi dan konservasi tanah-air.
Keempat, percepat penggunaan varietas tahan kekeringan dan berumur genjah. PPI ITB secara tegas merekomendasikan varietas toleran kekeringan/berumur genjah, konservasi tanah dan air, efisiensi penggunaan air serta diversifikasi tanaman sebagai bagian dari peningkatan kapasitas adaptasi.
Kelima, lindungi ekonomi petani. Adaptasi tidak akan berjalan jika petani tidak memiliki kemampuan finansial untuk membeli benih, membangun sumber air atau mengadopsi teknologi. Karena itu, asuransi pertanian, pembiayaan adaptasi dan bantuan sarana produksi harus diarahkan terutama kepada wilayah dengan risiko tinggi.
Jangan hanya melihat El Niño sebagai ancaman
Adanya fenomena El Nino terdapat pesan lain yang tidak kalah penting bahwa El Niño juga dapat menciptakan peluang di lokasi tertentu. Bahan PPI ITB menunjukkan bahwa periode kering dapat memberikan peluang bagi sistem pertanian tertentu, termasuk lahan rawa seperti lahan rawa lebak yang mengalami penurunan muka air sehingga lebih mudah diolah dan ditanami.
Dalam konteks ini terkandung maksud, kebijakan Sultra tidak boleh seragam. Daerah dengan risiko kekeringan tinggi membutuhkan perlindungan, sementara wilayah yang secara ekologis memperoleh keuntungan dari kondisi lebih kering harus diarahkan untuk menangkap peluang produksinya.
Sesungguhnya, El Nino 2026–2027 adalah ujian tata kelola pertanian Sulawesi Tenggara. Kita tidak dapat mengendalikan suhu permukaan laut di Pasifik. Kita juga tidak dapat memerintahkan hujan turun sesuai kalender. Tetapi kita dapat mengendalikan cara kita membaca informasi iklim, memilih komoditas, mengatur waktu tanam, mengelola air, melindungi petani dan mengalokasikan anggaran.
Karena itu, ukuran keberhasilan Sultra menghadapi El Nino bukanlah apakah kekeringan terjadi atau tidak. Ukuran keberhasilannya adalah seberapa kecil produksi yang hilang, seberapa sedikit petani yang mengalami kerugian, dan seberapa cepat pertanian kita mampu beradaptasi.
Jangan menunggu sawah mengering untuk mulai bertindak. Saatnya Sultra membangun pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga tahan terhadap ketidakpastian iklim. (***)
Oleh: Prof Dr. Ir. H. Andi Bahrun, M.Sc, Agric
Dosen Fakultas Pertanian UHO /Ketua PERHIMPI Sultra







Komentar