Egallery Tari, Menjaga Identitas Muna Lewat Gerak dan Kreativitas

Berita3441 Dilihat

Potretterkini.id, MUNA-Di sebuah ruang latihan di Jalan Macan, Kabupaten Muna, gerak-gerak kecil itu terus dipelajari. Anak-anak menghafal irama, menyelaraskan langkah, lalu mencoba jjjjkembali ketika gerakan mereka belum sempurna. Di balik proses yang berulang itu, Egallery Tari menempatkan seni bukan sekadar sebagai pertunjukan, melainkan sebagai ruang pembentukan karakter.

Sanggar Seni Egallery Tari didirikan oleh Egawati Rusnia Putri, S.Sn pada 7 Agustus 2023. Sanggar ini menjadi wadah bagi anak-anak, remaja hingga dewasa untuk mengembangkan bakat dan kreativitas, khususnya di bidang seni tari.

Materi yang diajarkan beragam, mulai dari tari tradisional, tari kreasi hingga tari modern. Peserta dibagi dalam tiga kategori, yakni kategori anak usia 5–10 tahun, kategori remaja dan dewasa usia 11–21 tahun ke atas, serta kategori advance atau kelas mahir bagi usia 11–25 tahun ke atas.

Bagi Egawati, mendirikan sanggar bukan semata membuka kelas tari. Ada keinginan untuk menciptakan ruang belajar yang dapat membangun kreativitas sekaligus memperkenalkan kebudayaan kepada generasi muda.

“Bagi saya, tari bukan hanya tentang bagaimana seseorang bisa menampilkan gerakan dengan baik. Di dalamnya ada proses membangun disiplin, keberanian, kepercayaan diri dan kecintaan terhadap budaya. Saya ingin anak-anak di Muna punya ruang untuk berkembang sekaligus mengenal budaya daerahnya sendiri,” kata Egawati.

Menurut dia, perkembangan zaman tidak semestinya membuat generasi muda menjauh dari budaya lokal. Seni tradisi, kata dia, harus terus diperkenalkan dengan pendekatan yang kreatif agar tetap hidup dan dekat dengan generasi sekarang.

“Budaya Muna harus terus hidup dan dikenalkan kepada generasi berikutnya. Karena itu, kami mencoba memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengenal tari tradisional, sekaligus mengembangkan kreativitas melalui tari kreasi dan modern,” ujarnya.

Egallery Tari kerap dipercaya tampil dalam berbagai kegiatan, mulai dari penyambutan tamu, acara formal hingga kegiatan penting lainnya. Sanggar ini juga aktif di media sosial, seperti TikTok, Instagram dan Facebook, melalui berbagai konten tari yang mengikuti perkembangan zaman.

Aktivitas mereka tidak berhenti di atas panggung. Egallery juga mengambil bagian dalam kegiatan sosial, keagamaan, nasionalisme dan kemanusiaan.

Dalam perjalanan yang relatif singkat, sejumlah prestasi berhasil diraih. Pada 2023, Egallery menjadi juara pertama lomba senam kreasi tingkat Kabupaten Muna. Pada tahun yang sama, sanggar ini juga mewakili Kabupaten Muna dalam kegiatan BNBP tingkat nasional yang digelar di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Prestasi itu berlanjut pada 2024. Egallery meraih juara pertama lomba tari kreasi bertema Wonderland Indonesia pada Festival Liangkabori kategori remaja. Sanggar ini juga menjadi juara pertama lomba tari kreasi pada Festival Kondongia dan meraih juara ketiga lomba tari kreasi bertema Wonderland Indonesia dalam Festival Liangkabori kategori anak.

Pada tahun yang sama, para penari Egallery turut menampilkan Tari Linda dan tari kreasi Wonderland Indonesia dalam Festival Layang-Layang Nasional.

Tahun 2025, Egallery kembali meraih juara ketiga lomba tari kreasi Festival Liangkabori. Para penarinya juga mengikuti kegiatan Indonesia Menari di Kota Makassar yang dilaksanakan serentak di berbagai daerah di Indonesia.

Sementara pada 2026, Egallery meraih juara pertama dan juara kedua lomba tari kreasi dalam Festival Budaya Puncak Wakila. Sanggar ini juga meraih juara kedua lomba gerak jalan indah kategori umum dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Muna.

Bagi para orang tua, sanggar menjadi salah satu ruang penting untuk melihat perkembangan anak-anak mereka. Sunarti, salah seorang orang tua penari Egallery, merasakan perubahan yang cukup besar pada putrinya, Ull, setelah sekitar setahun bergabung.

Menurut Sunarti, keikutsertaan Ull di sanggar bukan hanya mengembangkan bakatnya di bidang seni, tetapi juga melatih kedisiplinan, membentuk karakter dan menumbuhkan rasa percaya diri.

“Selama kurang lebih setahun bersama Egallery, perubahan yang didapat Ull sangat besar. Dia bisa mengembangkan bakat seninya, lebih disiplin dan rasa percaya dirinya juga semakin terbentuk,” kata Sunarti.

Ia mengatakan, sanggar juga menjadi tempat bagi anaknya untuk menyalurkan hobi di bidang seni tari. Seiring proses latihan, Ull mulai mampu mengembangkan kreativitas dan mengekspresikan dirinya melalui berbagai koreografi dan iringan musik.

“Sekarang Ull bisa menyalurkan hobinya di bidang seni tari dan melatih kreativitasnya. Dia sudah bisa mengekspresikan dirinya melalui berbagai koreografi dan iringan musik,” ujarnya.

Bagi Sunarti, Egallery merupakan wadah yang tepat bagi anak-anak untuk bertumbuh melalui seni. Ia berharap sanggar tersebut terus berkembang dan mampu melahirkan sumber daya manusia yang kreatif serta unggul, bukan hanya dalam seni tari, tetapi juga dalam bidang kebudayaan dan bidang lainnya.

“Egallery adalah wadah yang tepat untuk anak-anak, terutama Ull. Kami berharap ke depan Egallery terus berkembang dan bisa menciptakan generasi yang kreatif dan unggul di bidang seni, tari, budaya dan lainnya,” katanya.

Perkembangan itu juga dirasakan langsung oleh para penari. Nadia, salah seorang penari Egallery Tari, mengaku telah bergabung sejak awal kelas tari dibuka dan kini telah menjalani proses latihan selama tiga tahun bersama sanggar tersebut.

Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada Egawati yang menjadi pelatih sekaligus pendiri Egallery Tari. Bagi Nadia, sanggar itu telah memberinya banyak pengalaman dan membuka pemahamannya lebih luas tentang dunia tari.

“Saya sangat berterima kasih kepada pelatih tari saya sekaligus pemilik Sanggar Seni Egallery Tari, Kak Ega. Saya mengikuti sanggar ini sudah tiga tahun, sejak awal kelas tari dibuka sampai hari ini. Saya sangat senang menjadi bagian dari keluarga Egallery Tari karena di sana saya mendapatkan banyak pengalaman dan bisa mengenal dunia tari lebih banyak lagi,” ujar Nadia.

Menurut dia, proses belajar di sanggar tidak selalu mudah. Ada berbagai tantangan yang harus dilalui, tetapi justru dari proses itulah ia belajar memahami arti latihan dan kebersamaan.

“Susah dan senang sudah saya rasakan selama belajar di Egallery Tari. Selain tempat latihannya nyaman, pelatihnya juga baik dan pengertian. Saya juga bisa bertemu dan belajar bersama teman-teman yang lain,” katanya.

Pengalaman bersama Egallery, kata Nadia, juga membawanya tampil di berbagai tempat. Baginya, kesempatan untuk menari tidak lagi terbatas pada satu panggung.

“Saya senang bisa bergabung di Egallery dan bisa menari kapan pun dan di mana pun, bahkan di Kendari dan Makassar. Ke depan, saya berharap bisa mendapatkan kesempatan yang lebih besar lagi. Semoga suatu saat nanti bisa menari di Istana Negara,” ujarnya.

Nadia berharap Egallery Tari terus tumbuh dan membuka jalan yang lebih luas bagi para penari muda Muna.

“Semoga Sanggar Seni Egallery Tari terus maju, sukses dan semakin dikenal luas. Saya berharap sanggar ini terus berkembang sampai ke tingkat nasional bahkan internasional. Menjadi bagian dari Egallery Tari adalah pengalaman yang luar biasa bagi saya,” katanya.

Di balik perjalanan itu berdiri Egawati Rusnia Putri, perempuan kelahiran Muna, 12 Februari 1999. Ketertarikannya terhadap dunia tari dimulai sejak berusia 16 tahun ketika ia bergabung dengan sebuah sanggar tari.

Perjalanan itu membawanya mengikuti kompetisi tari kreasi yang mewakili daerah di tingkat provinsi pada 2016 dan 2017. Pada 2018, Ega melanjutkan pendidikan ke Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan mengambil jurusan Tari.

Ia menyelesaikan pendidikan pada 2022. Setahun kemudian, Ega kembali ke Muna dan mendirikan Egallery Tari.

Keputusan itu menjadi cara Ega membawa pulang pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya selama menempuh pendidikan seni. Ia ingin ilmu yang dimilikinya tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi dapat diwariskan kepada generasi muda di daerahnya.

“Setelah menyelesaikan pendidikan, saya ingin ilmu dan pengalaman yang saya dapat tidak berhenti pada diri saya sendiri. Saya ingin membaginya kepada anak-anak di Muna. Egallery saya harapkan bisa menjadi tempat mereka belajar, berproses, mengembangkan kemampuan dan menemukan kepercayaan dirinya,” kata Ega.

Kini, Egallery Tari tidak hanya menjadi tempat belajar gerakan. Di sana, anak-anak belajar tentang disiplin, keberanian dan proses. Mereka mengenal tradisi, tetapi juga diberi ruang untuk menciptakan bentuk-bentuk baru.

Piala dan penghargaan menjadi penanda perjalanan. Namun, barangkali yang lebih penting adalah perubahan yang tumbuh di balik ruang latihan: seorang anak yang mulai berani tampil, seorang penari yang menemukan cara mengekspresikan dirinya, dan generasi muda yang perlahan mengenal kembali akar budayanya.

Sebab bagi Egallery Tari, budaya tidak akan lestari hanya karena disimpan dalam ingatan. Budaya harus terus digerakkan, dipelajari dan diwariskan.

Dan dari sebuah sanggar di Jalan Macan, Muna, upaya untuk merawatnya terus dimulai dari, satu langkah, satu irama, dan satu generasi ke generasi berikutnya.

Kontributor: Aswin Rudi

Komentar