DULU MELAWAN PENJAJAH KOLONIALISME, MASA KINI MELAWAN KETERGANTUNGAN, DAN KEBANGKITAN PEMUDA ERA BARU

Berita3443 Dilihat

Potretterkini.id-OPINI-Peringatan Hari Kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei bukan hanya agenda seremonial tahunan, melainkan momentum refleksi tentang arah perjuangan bangsa. Jika dahulu bangsa Indonesia menghadapi kolonialisme dalam bentuk penjajahan fisik dan penguasaan wilayah, maka hari ini bangsa ini sedang menghadapi bentuk kolonialisme baru yang lebih halus, sistematis, dan sering kali tidak disadari: kolonialisme ketergantungan.

Dahulu penjajah datang dengan senjata, monopoli perdagangan, dan kekuasaan politik. Hari ini “PENJAJAHAN” hadir melalui dominasi teknologi, budaya konsumtif, ketergantungan ekonomi, hingga arus informasi global yang perlahan mengikis identitas dan kemandirian bangsa. Kita memang telah merdeka secara politik, tetapi belum sepenuhnya merdeka secara ekonomi, teknologi, dan mentalitas.

Ironisnya, generasi muda yang seharusnya menjadi motor kebangkitan justru banyak terjebak dalam budaya instan dan ketergantungan digital. Media sosial sering kali melahirkan generasi yang lebih sibuk mengejar validasi daripada meningkatkan kapasitas diri. Banyak anak muda menjadi konsumen tanpa mampu menjadi pencipta. Kita mengagumi inovasi bangsa lain, tetapi kurang percaya diri terhadap potensi bangsa sendiri. Inilah wajah kolonialisme modern: ketika sebuah bangsa tidak lagi dijajah wilayahnya, tetapi dijajah cara berpikir dan pola hidupnya.

Padahal, sejarah bangsa menunjukkan bahwa kebangkitan nasional lahir dari kesadaran kaum muda terdidik. Kehadiran Budi Utomo pada tahun 1908 menjadi simbol bahwa perubahan besar dimulai dari kesadaran intelektual, persatuan, dan keberanian melawan penindasan. Semangat itu semestinya menjadi inspirasi bagi pemuda masa kini untuk melawan bentuk penjajahan baru yang tidak tampak, tetapi nyata dampaknya.
Kolonialisme era baru bekerja melalui ketergantungan.

Ketika bangsa terlalu bergantung pada produk asing, teknologi luar, hingga investasi yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat, maka kedaulatan bangsa perlahan melemah. Lebih berbahaya lagi ketika generasi mudanya kehilangan daya kritis dan tidak memiliki visi kebangsaan. Bangsa yang besar tidak akan maju jika pemudanya hanya menjadi penonton perkembangan zaman.

Kebangkitan pemuda era baru harus dimaknai sebagai gerakan membangun kemandirian bangsa. Pemuda tidak cukup hanya aktif di ruang digital, tetapi harus hadir sebagai inovator, penggerak sosial, pelaku usaha kreatif, peneliti, pendidik, dan penjaga nilai kebangsaan. Pemuda harus berani melawan mentalitas inferior yang menganggap segala sesuatu dari luar negeri selalu lebih baik dibanding karya anak bangsa.

Pemuda juga harus menjadi kekuatan moral dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa: ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, korupsi, hingga lemahnya literasi masyarakat. Kebangkitan nasional tidak akan berarti jika generasi muda kehilangan kepedulian terhadap realitas sosial di sekitarnya. Nasionalisme hari ini tidak cukup diwujudkan lewat slogan, tetapi melalui tindakan nyata dan kontribusi terhadap masyarakat.

Di tengah derasnya arus globalisasi, tantangan terbesar Indonesia bukan lagi sekadar mempertahankan kemerdekaan fisik, tetapi mempertahankan jati diri dan kemandirian bangsa. Oleh sebab itu, Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2026 harus menjadi momentum membangkitkan kesadaran baru bahwa perjuangan belum selesai. Bentuk penjajahannya berubah, tetapi semangat perlawanannya harus tetap hidup.

Dulu para pahlawan melawan kolonialisme demi merebut kemerdekaan. Hari ini, pemuda Indonesia harus melawan ketergantungan demi menjaga kedaulatan bangsa. Sebab masa depan Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa besar sumber daya alamnya, tetapi oleh seberapa kuat karakter, kreativitas, dan keberanian generasi mudanya untuk bangkit dan berdiri di atas kaki sendiri.

Oleh: Dr. La Ismeid, S.Pd., M.Pd, Direktur Utama Potretterkini.id/ Dosen Tetap Universitas Karya Persada Muna (UKPM)

Komentar