Potretterkini.id, KENDARI- Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, dukungan terhadap KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) untuk kembali melanjutkan kepemimpinannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai mengemuka.
Dukungan tersebut salah satunya datang dari Almunardin, SH, mantan pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Provinsi Sulawesi Tenggara. Ia menyatakan dukungan agar Gus Yahya kembali dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Umum PBNU untuk periode kedua.
Menurut Almunardin, keberlanjutan kepemimpinan Gus Yahya penting untuk meneruskan berbagai ikhtiar yang telah dirintis, sekaligus memperkuat marwah, khittah, dan peran strategis NU dalam memperjuangkan kemaslahatan serta kesejahteraan umat.
“Saya mendukung KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya untuk kembali melanjutkan amanah sebagai Ketua Umum PBNU pada periode kedua. NU membutuhkan kesinambungan kepemimpinan agar berbagai ikhtiar yang telah dirintis dapat dilanjutkan dan disempurnakan, terutama dalam menjaga marwah organisasi serta meningkatkan kemaslahatan dan kesejahteraan umat,” ujarnya, kepada awak media di Kendari, Kamis (13/8/2026).
Menjaga NU Tetap Kokoh di Tengah Perubahan Zaman
Almunardin menilai NU menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, dinamika ekonomi global hingga menguatnya polarisasi di tengah masyarakat membutuhkan organisasi keagamaan yang mampu menjaga tradisi sekaligus merespons perubahan zaman secara bijaksana.
Dalam kondisi tersebut, kata dia, NU harus tetap menjadi rumah besar umat yang menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, memperkuat moderasi beragama, merawat persaudaraan dan konsisten menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“NU harus tetap berdiri sebagai kekuatan moral dan sosial yang mampu meneduhkan umat. Di tengah berbagai perubahan dan dinamika yang terjadi, NU harus tetap berpijak pada khittahnya, menjaga tradisi para ulama, sekaligus mampu memberikan jawaban atas persoalan-persoalan baru yang dihadapi masyarakat,” katanya.
Kepemimpinan NU Harus Berdampak pada Kesejahteraan Umat
Lebih lanjut, Almunardin menekankan bahwa kepemimpinan NU ke depan tidak cukup hanya berorientasi pada penguatan kelembagaan. Program organisasi harus semakin dirasakan manfaatnya oleh warga Nahdliyin, khususnya dalam bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, penguatan pesantren dan pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, NU memiliki jaringan sosial yang sangat besar, mulai dari pesantren, lembaga pendidikan, perguruan tinggi, lembaga sosial hingga struktur organisasi yang menjangkau masyarakat sampai tingkat akar rumput.
Potensi tersebut, lanjutnya, harus terus dikonsolidasikan menjadi kekuatan nyata untuk meningkatkan kesejahteraan umat.
“Besarnya NU harus berbanding lurus dengan besarnya manfaat yang dirasakan oleh jamaah dan masyarakat. Karena itu, periode kepemimpinan berikutnya harus semakin memperkuat agenda kemandirian ekonomi warga, pendidikan, pesantren, kesehatan dan pemberdayaan masyarakat,” tegasnya.
Ia berpandangan, Gus Yahya memiliki kapasitas dan pengalaman untuk melanjutkan agenda tersebut. Pengalaman memimpin PBNU pada periode pertama dinilai menjadi modal penting untuk melakukan evaluasi sekaligus mempercepat berbagai agenda strategis organisasi pada periode berikutnya.
Pesan untuk Pemilik Suara NU di Sulawesi Tenggara
Secara khusus, Almunardin mengingatkan para pemilik suara Muktamar NU dari Sulawesi Tenggara agar mencermati secara utuh rekam jejak, kapasitas serta arah kepemimpinan para calon Ketua Umum PBNU sebelum menentukan pilihan.
Menurutnya, Muktamar harus menjadi ruang untuk memilih kepemimpinan yang mampu menjaga kesinambungan program sekaligus memperkuat persatuan organisasi.
“Saya mengingatkan kepada para pemilik suara yang ada di Sulawesi Tenggara untuk cermat dalam menentukan pilihan dan sebaiknya tetap memberikan dukungan kepada Gus Yahya. Kita perlu melihat kepentingan NU secara lebih besar dan jangka panjang, agar perjuangan yang sudah berjalan dapat terus dilanjutkan dan diperkuat,” katanya.
Ia menegaskan, dukungan tersebut bukan semata-mata persoalan figur, melainkan pertimbangan terhadap keberlanjutan kepemimpinan dan agenda besar organisasi.
“Yang paling penting adalah bagaimana NU ke depan semakin kuat, semakin mandiri dan semakin memberikan manfaat kepada umat. Karena itu, saya berharap para pemilik suara dari Sulawesi Tenggara dapat mempertimbangkan secara jernih kesinambungan kepemimpinan Gus Yahya untuk periode kedua,” lanjutnya.
Ajak Nahdliyin Sultra Berikan Doa dan Dukungan
Selain menyampaikan pesan kepada para pemilik suara, Almunardin juga mengimbau seluruh warga Nahdliyin di Sulawesi Tenggara untuk memberikan doa dan dukungan kepada Gus Yahya dalam menghadapi Muktamar NU.
Menurutnya, dukungan warga Nahdliyin tidak hanya diwujudkan melalui pilihan organisasi, tetapi juga melalui doa dan ikhtiar bersama agar NU mendapatkan pemimpin yang mampu menjaga persatuan, ketenangan dan marwah jam’iyah.
Almunardin menilai, selama memimpin PBNU, Gus Yahya telah menunjukkan corak kepemimpinan yang memberikan keteduhan di tengah besarnya organisasi dan beragamnya pandangan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
“Saya juga mengimbau kepada seluruh warga Nahdliyin di Sulawesi Tenggara untuk bersama-sama memberikan doa dan dukungan kepada Gus Yahya. Bagi saya, Gus Yahya telah menunjukkan kepemimpinan yang memberikan keteduhan dalam memimpin NU. Kita berharap keteduhan itu terus terjaga, sehingga NU tetap menjadi rumah besar yang mempersatukan umat,” ujarnya.
Menurutnya, keteduhan dalam kepemimpinan menjadi semakin penting ketika NU menghadapi dinamika internal maupun tantangan kebangsaan yang semakin kompleks.
“NU adalah rumah besar kita. Perbedaan pandangan adalah sesuatu yang biasa, tetapi persaudaraan dan kepentingan jam’iyah harus selalu ditempatkan di atas kepentingan lainnya. Mari warga Nahdliyin Sulawesi Tenggara mendoakan agar Muktamar berjalan dengan sejuk dan memberikan dukungan kepada Gus Yahya untuk melanjutkan pengabdiannya,” tambahnya.
Muktamar Momentum Memperkuat Persatuan
Almunardin berharap Muktamar NU pada 27–31 Agustus 2026 tidak hanya menjadi forum pergantian atau penetapan kepemimpinan, tetapi juga momentum untuk semakin memperkokoh persatuan dan persaudaraan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Perbedaan pandangan dan pilihan dalam Muktamar, menurutnya, merupakan bagian dari dinamika organisasi yang harus ditempatkan dalam semangat ukhuwah dan tradisi musyawarah para ulama.
“Muktamar bukan sekadar momentum memilih kepemimpinan PBNU, tetapi forum tertinggi organisasi untuk menentukan arah perjuangan NU ke depan. Karena itu, seluruh prosesnya harus dilandasi semangat persaudaraan, musyawarah dan kepentingan besar jam’iyah,” ujarnya.
Ia berharap para muktamirin memberikan kepercayaan kembali kepada Gus Yahya untuk memimpin PBNU pada periode kedua sehingga program-program yang telah dirintis dapat dilanjutkan dengan berbagai perbaikan dan penguatan.
“Saya berharap Gus Yahya diberikan kesempatan untuk melanjutkan perjuangan pada periode kedua. Yang harus kita jaga adalah NU tetap bermartabat, mandiri, solid dan semakin nyata kehadirannya dalam memperjuangkan kesejahteraan umat serta menjaga Indonesia,” pungkasnya. (Redaksi)







Komentar