DLH Sultra & Unsultra Kolaborasi Pengolahan Sampah Jadi Ecobrick

Berita Utama2030 Dilihat

Potretterkini.id, KENDARI – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) berencana akan melakukan program kegiatan bersama dengan tim Colaborator Ecobrik Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) dalam kegiatan pengolahan sampah seperti limbah plastik dan uang kertas cacahan dari Bank Indonesia (BI) menjadi ecobrick.

Inovasi ini bukan hanya solusi bagi permasalahan sampah, tetapi juga peluang baru untuk ekonomi kreatif berbasis lingkungan. Rencana kegiatan bersama ini merupakan implementasi lanjutan dari kerjasama DLH Sultra dan Universitas Sulawesi Tenggara.

Sampah plastik dan uang kertas cacahan dari Bank Indonesia yang sebelumnya tak bernilai kini disulap menjadi ecobrick bata ramah lingkungan yang bisa digunakan untuk membuat meja, kursi, hingga elemen dekoratif lainnya.

Pengolahan sampah Ecobrik oleh mahasiswa

“Tujuannya untuk menyelamatkan sampah plastik yang tidak bisa digunakan lagi agar tidak menjadi pencemar lingkungan dan tidak berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA),” ujar Muh. Samanea Saman Turusi, S.Hut, Penatalayanan Operasional UPTD Persampahan DLH Sultra, pada Jumat, (23/8/2025)

Menurutnya, ecobrick hasil daur ulang ini sudah mulai diminati. Bahkan, beberapa instansi telah membeli produk jadi seperti meja dan kursi yang dihasilkan dari limbah tersebut.

DLH Sultra menegaskan bahwa langkah ini bukan hanya program seremonial semata. Mereka menargetkan agar model pengelolaan sampah berbasis ecobrick dan bank sampah bisa diadopsi oleh kabupaten/kota lain di Sulawesi Tenggara.

“Kami ingin menjadikan Sultra sebagai provinsi percontohan dalam pengelolaan sampah kreatif dan terintegrasi. Kami optimis, jika ada kolaborasi, kesadaran, dan aksi nyata, kita bisa menuju Sultra bebas sampah,” tutup Samanea.

Tim DLH Sultra Presentasi tata cara pengolahan sampah rcobrik

Inovasi Ramah Lingkungan yang Memberdayakan Mahasiswa di Sultra
Selain memberikan solusi terhadap persoalan limbah plastik, program ecobrick ini juga terbukti bisa memberdayakan masyarakat lokal dan mahasiswa yang ada di Sultra, khususnya kaum perempuan.

Dalam pelatihan yang digelar bersama Unsultra, para peserta tidak hanya belajar mengolah sampah, tetapi juga mendapatkan wawasan kewirausahaan.

“Dengan keterampilan membuat ecobrick, masyarakat bisa menghasilkan produk yang bernilai jual. Ini adalah bentuk ekonomi sirkular yang nyata,” jelas Kumala Sari.

Kegiatan ini tidak hanya melibatkan kalangan akademisi dan pemerintah, tetapi juga merangkul komunitas dan pelaku UMKM. Kolaborasi lintas sektor ini dinilai penting untuk membangun ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Kolaborasi ini juga melibatkan tim Colaborator dari Unsultra yang diwakili oleh Ketua IKB Unsultra, Hj Hikmah Kumala Sari, selaku mitra dalam pembuatan ecobrick.

Ia menegaskan pentingnya kegiatan ini untuk mendorong kretaivitas dan inovasi di kalangan ibu-ibu agar tetap produktif dan peduli serta berkontribusi terhadap lingkungan.

“Kegiatan seperti ini jadi ruang bagi perempuan untuk memanfaatkan waktu khususnya berkreasi dan berinovasi dalam dalam hal pengolahan sampah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi, sehingga kaum perempuan tidak hanya aktif dalam pekerjaan dan juga sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga menciptakan kegiatan yang berdampak sosial dan lingkungan,” katanya.

Kata Kumalasari menuturkan Unsultra sendiri, Unsultra sudah membentuk UKM Bank Sampah dengan aktivitas antara lain sosialisasi dan edukasi mahasiswa dan masyarakat agar mengumpulkan dan menyetor sampah ke Banak Sampah serta dapat diolah menjadi karya yang memiliki nilai estetika.

Belum lama ini UKM Bank Sampah Unsultra bersama DLH menggelar Lomba mengolah sampah plastik tingkat pelajar SMA/SMK se-Sultra. Beberapa program ini telah berjalan dan terus dikembangkan. Oleh karena saya sebagai Ketua IKB Unsultra terpanggil untuk turut serta memperkuat komitmen Unsultra dalam pengolahan sampah agar kaum perempuan khususnya ibu-ibu bisa turut serta mengambil bagian dalam kegiatan yang berdampak ekonomi, sosial dan lingkungan, ungkapnya.

Dengan kolaborasi ini, DLH dan Unsultra berharap kegiatan daur ulang dapat menjadi gerakan bersama untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, asri, dan berkelanjutan.

Bank sampah yang sudah berjalan di lingkungan Unsultra menjadi ujung tombak dalam proses pengumpulan dan pemilahan limbah. Jika didukung oleh keterlibatan ibu-ibu yang tergabung dalam IKB Unsultra, diharapkan sistem pengelolaan sampah ini memungkinkan mahasiswa dan warga sekitar kampus untuk menukarkan sampah yang mereka kumpulkan dengan insentif, baik berupa uang tunai maupun produk kebutuhan pokok.

“Ini adalah bentuk edukasi lingkungan yang aplikatif dan produktif. Ibu-Ibu, mahasiswa dan masyarakat bisa melihat langsung dampak dari tindakan kecil seperti memilah sampah dan mengelolanya dengan benar,” tambahnya.

Dengan sistem ini, budaya peduli lingkungan diharapkan bisa tumbuh dari kampus dan menyebar ke masyarakat luas terlebih Unsultra telah melaunching program Unsultra Berdampak.“Mari jadikan sampah sebagai berkah, bukan musibah,” pungkasnya. (Med)

Komentar