Adanya Sorotan Muna Daerah Tertinggal, Ketua PKPI: Itu Tamparan ke Pemda dan Wujud Penghinaan

Muna509 Dilihat

Potretterkini. MUNA- Adanya sorotan dari pihak kandidat calon bupati muna akronim Rapi, menyatakan bahwa daerah kabupaten muna adalah salah satu daerah tertinggal di Sulawesi Tenggara. Hal ini, menuai kritis keras dari Ketua Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Muna, Usman Rahman, disela orasi di Lampogu Kecamatan Katobu Kabupaten Muna pekan lalu.

Menurutnya, closing statment itu, sebagai wujud tamparan kepada pemerintah kabupaten muna baik yang sedang menjabat maupun yang tidak menjabat bupati, artinya jika menelaah pernyataan paslon tersebut, pejabat daerah muna tidak ada sama sekali melakukan peletakan pembangunan memajukan daerahnya. Pada hal kenyataan tidak seperti itu banyak kemajuan terdapat di Bumi Sowite tersebut.

“Kami nilai pernyataan paslon tersebut akronim Rapi, pada saat debat kandidat yang lalu, sangat keliru, tidak berdasar dan mempertontokan sikap arogansi menjatuhkan petahana. Kira-kira data apa yang ia menjadikan landasannya. Dan ini sebagai wujud penghinaan kepada pemimpin muna terdahulu kita yang telah berusaha memajukan daerah yang sejajar dengan daerah lainnya.

“Jangan karena paslon tertentu, mencalonkan diri di Muna melancarkan isu-isu propaganda, terang-terangan menghina daerah Muna. Demi memuluskkan pertarungan politik menggaet dukungan rakyat, Saya sendiri bukan suku Muna tetapi saya merasa jadi orang muna dan bangga bersama-sama membangun Muna,” tegasnya.

Selain itu, lanjutnya, sorotan beberapa pihak terkait dengan timbunan yang ada di Motewe merupakan hal tidak berdasar. Mereka bilang Program Water Front City (WTC) merupakan hal yang sia-sia dan mubazir anggaran. Pendapat dan asumsi seperti itu tidak perlu dikembangkan, sebab hal itu merupakan wujud pendangkalan proses berfikir.

Masih dia, Rusman Emba menggagas perluasan Kota di Motewe untuk merubah masa depan kabupaten Muna agar lebih baik. Ingat gagasan yang dilakukan oleh Mantan Bupati Muna dua Periode Ridwan Bae, beberapa tahun yang lalu, juga mendapat cemoohan, tetapi sekarang ini manfaatnya sangat dirasakan oleh masyarakat Muna.

Bahwa Muna sambungnya, tidak bisa disamakan dengan Buton, sebab Muna belum lama mekar menjadi tiga kabupaten jadi porsi anggaran pusat yang didapat sedikit. Dibandingkan dengan Kabupaten Buton sudah lama mekar menjadi lima Kabupaten jadi porsi anggaran yang didapat juga besar.

“Tidak masuk akal kita mau bandingkan Muna dengan Buton, sebab Muna belum lama mekar. Sedangkan Buton sudah mekar 5 kabupaten sejak dulu jadi merka sudah mendapat lima bagian, Muna baru satu. Itulah yang menyebabkan perkembangan Muna lambat” pungkasnya.

Dirinya juga menyampaikan, bahwa terbentuknya Kabupaten Muna Barat merupakan salah satu upaya dari dr. LM. Baharuddin, selaku Bupati Muna pada saat itu. Dengan hasil pemekaran tersebut maka masing-masing kabupaten mendapatkan porsi dana tersendiri di Pusat.

“Dengan dimekarkan Muna dan Muna Barat sehingga dua kabupaten ini mendapatkan porsi dana masing-masing dari pusat. Olehnya itu dua kabupaten ini harusnya saling mendukung bukan justru saling menjatuhkan. Sebab masing-masing bupati dari dua wilayah ini pasti memiliki pragram unggulan untuk dipersembahkan kepada rakyat,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, dirinya mengaku heran atas langkah Rajiun yang rela mengundurkan diri untuk calon di Muna. Padahal jika dua daerah ini bekerja sama dengan memanfaatkan potensi masing-masing akan membawa kesejahteraan masyarakat kedepan.

“Saya juga bertanya-tanya atas motivasi beliau untuk calon di Muna. Padahal kalau ia kembangkan potensi yang ada di Muna Barat seperti pertanian, peternakan dan perikanan itu akan lebih baik. Kemudian di Muna akan mengembangkan potensi pelabuhan dan industri, kedua daerah ini akan semakin maju dan mandiri kedepan,” katanya.

Dalam pernyataan akhirnya ia menyampaikan kepada masyarakat bahwa jangan sampai pencalonannya di Muna bukan tujuan untuk membangun Muna.

Tetapi hanya dijadikan batu loncatan untuk mencapai kepentingan politik yang lebih tinggi lagi. Sehingga janji-janji politik akan menjadi mentah karena kedepan ada kontestasi pemilihan lagi.

“Saya khawatir jangan sampai pencalonan beliau ini bukan tujuan untuk membangun Muna. Tetapi hanya dijadikan batu loncatan untuk memuluskan langkah politik pada pemilihan berikutnya yakni pemilihan gubernur.

Jika hal demikian terjadi maka apa yang menjadi janji-janji politik yang selama ini akan sia-sia, katena tidak lama lagi akan meninggalkan tanggung jawabnya sebagaimana Muna Barat. Olehnya itu pada tanggal 9 Desember 2020 kedepan ajak saudara dan sanak keluarga kita untuk bulatkan tekad memilih nomor 1,” tegasnya.

Kontributor : Kafarun

Komentar